Koneksi
Antarmateri - Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional(Kunti Dewi Hambawani, CGP Angkatan 5
Kabupaten Merangin)
Pendidik sebagai pemimpin pembelajaran memiliki tugas menumbuhkan motivasi mereka untuk dapat membangun perhatian yang berkualitas pada materi dengan merancang pengalaman belajar yang mengundang dan bermakna. Pendidik merencanakan secara sadar pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan murid-murid untuk mewujudkan kekuatan (potensinya). Hal itu termaktub dalam kompetensi sosial dan emosional (KSE) dengan mengacu pada lima kompetensi yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Bagaimana KSE dalam pembelajaran sosial emosional (PSE). Pada praktik intergasinya di kelas, KSE tidak hanya berpotensi menghasilkan kemampuan akademik saja, tetapi dapat menjadikan landasan kuat murid agar sukses di segala lini kehidupan di luar akademik termasuk kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Well-being murid yang optimal adalah keadaan emosional yang berkelanjutan (relatif stabil) dengan ditandai sikap dan suasana hati (secara umum) positif, relasi yang positif sesama murid dan guru, relisiensi (kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit), optimalisasi diri dan tingkat kepuasan diri yang tinggi terkait dengan pengalaman belajar mereka di sekolah. Well-being terakselerasi dalam PSE.
PSE adalah proses pembelajaran secara kolaboratif
seluruh komunitas sekolah. Dalam praktik PSE menggunakan kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan
lima KSE. Mindfulness adalah
kesadaran yang muncul saat seseorang memberikan perhatian secara sengaja /sadar
pada kondisi sekarang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan
kebaikan. Untuk mengawali kesadaran penuh dapat dengan menggunakan metode STOP.
S (Stop) berhenti sejenak. T (Take a breath) ambil nafas dalam. O (Observe)
amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran, dan lingkungan. P (Proceed)
selesai dan lanjutkan. Atau dengan teknik lain. Fungsi kesadaran penuh adalah
untuk mengenal emosi, pikiran, perasaan apa adanya tanpa penilaian dan
penghakiman, tetapi kepedulian yang ujungnya akan menumbuhkan empati dan
terbuka pada orang lain.
Indikator PSE di kelas mencakup 3 hal yaitu pertama,
pengajaran eksplisit, di mana murid
memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih dan merefleksikan
kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan responsif dengan
perkembangan budaya. Kedua, pembelajaran
akademik yang terintegrasi KSE. Ketiga, pelibatan dan suara murid
(melibatkan murid sebagai pemimpin, pemecah,
dan pembuat keputusan). Semuanya terintegrasi dalam RPP praktik mengajar guru
dalam KBM.
Indikator PSE di sekolah mencakup Iklim kelas dan sekolah yang mendukung, berfokus pada KSE pendidik dan
tenaga kependidikan (PTK), Kebijakan yang mendukung, dan dukungan terintegrasi
yang berkelanjutan. Langkah yang dilakukan adalah menjadi teladan, belajar, dan
berkolaborasi.
Indikator PSE pada keluarga
dan komunitas (masyarakat) mencakup pelibatan kemitraan dengan orangtua,
kemitraan dengan komunitas, dan terbentuk sistem dalam upaya continuous
improvement (pemantauan melalui
data dan artefak untuk peningkatan)
Berdasarkan telaah materi diatas maka dapat disimpulkan bahwa PSE dalam implementasinya dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran dan praktik di sekolah derta masyarakat. Yang menjadi pondasi terlaksananya PSE adalah kesadaran penuh sebagai pendukung 5 kesadaran diri. Semuanya akan berhasil baik apabila terjalin kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, keluarga dan komunitas.
Kaitan Pembelajaran Sosial emosional dengan modul-modul sebelumnya
1. Kaitan PSE dengan Modul 1.1 Filosofi KHD
Pendidikan adalah menuntun anak segala kodrat yang ada
pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Implementasinya adalah dengan menemukenali nilai-nilai luhur budaya lokal
dengan pembelajaran social emosional yang berpusat pada murid yang tidak hanya
mencakup lingkungan kelas, tetapi keluarga, sekolah, dan masyarakat (tumbuhnya
nilai-nilai luhur budaya). Menuntun sesuai kodrat zaman dan kodrat alam yang
dimiliki. Maka dengan PSE diharapkan proses menuntun anak untuk menggali
nilai-nilai luhur yang dilandasi dengan budi pekerti. PSE termaktub dalam
cerminan profil pelajar Pancasila.
2. Kaitan PSE dengan Modul 1.2 Nilai-Nilai dan Peran Guru
Penggerak
Keterkaitan PSE dengan modul 1.2 ini jelas
sangat erat. Nilai dan peran guru sebagai penuntun terlihat saat pembentukan
nilai diri dengan mengembangkan lingkungan yang bersifat fisik (ekstrinsik) dan
psikis (intrinsik). Lingkungan psikis inilah yang berkaitan dengan emosi.
Keterkaitannya dengan nilai diantara kedua modul ini adalah mewujudkan
kepemimpinan murid, di mana guru dan sekolah mendorong peningkatan/ pelibatan
murid dalam kemandirian dan kepemimpinan. Kemudian hal yang penting lagi adalah
kolaborasi dengan rekan sejawat, warga sekolah. Kemitraan dengan orang tua,
komunitas hingga terbentuk suatu sistem keberlanjutan untuk peningkatan praktik
baik menuju kesetaran
3. Kaitan PSE dengan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak
Modul 1.3 mengantarkan pada bagaimana visi guru
penggerak untuk perubahan di sekolah dengan paradigm IA menggunakan pendekatan
BAGJA. Sesungguhnya untuk mewujudkan sebuah visi atau arah masa depan maka
sebagai pijakan kontrol adalah pembelajaran sosial emosional. Bagaimana sebuah
arah tujuan akan diwujudkan tanpa kesadaran penuh, tanpa terintegrasi dalam
praktik mengajar dan kurikulum. Rasanya mustahil akan tercapai tanpa adanya
pembelajaran sosial emosional.
4. Kaitan PSE dengan Modul 1.4 Budaya Positif
PSE mengutamakan pembelajaran dengan memperhatikan
sosial emosional, memotivasi diri (pengendarian diri secara emosional) ini
sangat bertalian erat dengan modul 1.4 budaya positif membangkitkan motivasi
diri, disiplin positif. Disiplin sebagai bentuk kontrol diri. Menyelesaikan
permasalahan dengan restitusi. Menghargai keyakinan yang telah disepakati.
Kesemuanya tertuju pada kebutuhan dasar manusia dan penempatan yang tepat pada
posisi kontrol. Inti dari restitusi dan keyakinan kelas adalah berpedoman pada
pembelajaran sosial emosional. Restitusi akan berjalan dengan baik apabila
pendengalian emosi dapat dilakukan dengan mindfulness.
Tanpa adanya kesadaran penuh, restitusi tidak dapat dilakukan.
5. Kaitan PSE dengan Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi
Kebutuhan Murid
Dimana keterkaitan PSE dengan modul 2.1? Dalam
kaitannya dengan pembelajaran berdeferensiasi, PSE mengambil peran dalam
kolaborasi seluruh komunitas sekolah antara murid, pendidik dan tenaga
kependidikan untuk memeperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap positif. PSE mendeteksi bagaimana kesiapan belajar murid sebagaimana
dalam pemenuhan kebutuhan belajar murid (modul 2.1). PSE menyiapkan bagaimana
murid untuk belajar sesuai iklim kelas dan sekolah yang mendukung sebagaimana
tercermin dalam modul 2.1 (profil belajar murid). Jadi, jelas sekali antar
modul itu sangat berkaitan/berhubungan erat.
Pengalaman
dan Pemahaman hingga tahap ini adalah:
1. Sebelum
mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa
seorang guru memang harus mampu mengendalikan emosi. Namun, apa dan harus
bagaimana cara pengendaliannya saya tidak pernah memikirkannya sama sekali.
Menjalin hubungan sosial dengan murid pun, ya sekadar menjalin hubungan antara
guru dan murid, antara rekan kerja dan kepala sekolah atau warga sekolah. Tanpa
mempertimbangkan harus bagaimana mengelolanya. Sehingga saya merasa memiliki krisis pribadi dalam untuk kepekaan
sosial emosional tersebut.
Setelah mempelajarai modul ini, ternyata pembelajaran sosial emosional
itu sangat penting. Mindfulness sebagai dasar dari pengembangan 5 (lima) KSE
akan berpotensi pencapaian akademik yang lebih baik, menjadikan pondasi yang
kuat pada murid agar sukses di manapun (di luar akademik) hingga mencapai kesejahteraan psikologis (well-being). Yaitu sikap positif
terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur
tingkah laku sendiri, dapat memenuhi kebutuhan diri dengan menciptakan dan
mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup lebih
bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan diri.
2. Berkaitan
dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk
memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi
akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 hal
mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
(1) Pembelajaran
sosial emosional dengan memperhatikan kerangka KSE-CASEL untuk mengembangkan 5
(lima) kompetensi yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial,
keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Menekankan pada pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang tepat serta
terkoordinasi untuk meningkatkan pembelajaran akademik, sosial, dan emosional
semua murid. Pendekatan pembelajaran sosial dan emosional melalui
kemitraan/kerjasama sekolah-keluarga-komunitas untuk membentuk lingkungan
belajar dan pengalaman yang bercirikan hubungan/relasi yang saling mempercayai dan
berkolaborasi, kurikulum dan instruksi belajar yang jelas dan bermakna, dan
evaluasi secara berkala.
(2)
Mindfulness (Kesadaran Penuh)
Kesadaran penuh adalah kesadaran yang muncul
ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi saat
sekarang. Mindfulness ini ketika saya praktikkan ternyata hasilnya luar biasa.
Dengan mengajak murid secara sadar melakukan praktik STOP dengan saya
variasikan, mereka hanyut dalam olah diri masing-masing.
(3)
Pelibatan
kelas, sekolah, keluarga dan komunitas dalam implementasi PSE
Ketiganya adalah indikator penerapan PSE yang
sejalan dengan prinsip Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan). Kelas
sebagai wadah pengajaran eksplisit, pembelajaran akademik, dan pelibatan murid
(pemimpin, pemecah, pembuat keputusan). Sekolah
sebagai memilik iklim, berfokus pada KSE pendidik dan tenaga
kependidikan (teladan, kolaborasi, dan belajar), pemilik kebijakan yang
mendukung, dan dukungan yang berkelanjutan. Keluarga dan komunitas sebagai
kemitraan untuk meningkatkan semua sistem, praktik baik, dan focus pada
kesetaraan.
(1) mempraktikan mindfulness dalam kegiatan awal pembelajaran untuk memahami dan membangun kesadaran diri (2) melatih kepemimpinan pada murid dengan memberikan tugas sebagai moderator atau ketua kelompok atau pemimpin upacara. (3) menciptakan dan mengelola iklim belajar yang nyaman, aman dan kondusif serta menyenangkan. (4) melibatkan murid untuk membuat keyakinan kelas untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. (5) mengarahkan agar ketika berdiskusi/berpresentasi mampu mengelola emosi, memotivasi diri untuk berani dan beriinisiatif. (6) membimbing, menuntun untuk mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain, merefleksi diri untuk berempati kepada orang lain. (7) memberikan kesempatan secara merata untuk refleksi diri saat pembelajaran berakhir. (8) memberikan fleksibilitas untuk mengumpulkan tugas sesuai kreativitas murid. (9) memberikan kesempatan murid untuk mengikuti kegiatan literasi menulis puisi. (10) memberikan kesempatan untuk mengerjakan tugas yang dipilihnya terlebih dahulu. (11) memberikan keleluasaan untuk membedah konsep sesuai gaya belajar (auditori, visial, atau kinestetik). (12) mengajarkan/menekankan kolaborasi yang baik dalam kegiatan kelompok (tugas/proyek) ataupun dalam kegiatan sekolah (lomba, gotong-royong)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar