Minggu, 25 September 2022

 Teks Eksposisi

Rencana Pembelajaran 

Nama sekolah             : SMA Negeri 8 Merangin
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Kelas/ Semester           : X Fase E/1 (Ganjil)
Topik/Materi               : Konsep/Isi Teks Eksposisi
Alokasi waktu             : 2 x 45 menit
Tanggal Pelaksanaan   :

Kompetensi Dasar        :

3.3 Mengidentifikasi (permasalahan, argumentasi, pengetahuan, dan rekomendasi) teks eksposisi yang didengar dan atau dibaca

4.3  Mengembangkan isi (permasalahan, argumen, pengetahuan, dan rekomendasi) teks eksposisi secara lisan dan/tulis

Tujuan Pembelajaran:

Setelah melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran,

·   Murid dapat mengidentifikasi dan menjabarkan konsep (permasalahan, argumentasi, pengetahuan, dan rekomendasi) teks eksposisi yang didengar dan atau dibaca

·    Murid dapat mengembangkan dan menyampaikan isi (permasalahan, argumentasi, pengetahuan, dan rekomendasi) teks eksposisi baik secara lisan dan/tulis

Alat/Bahan dan Sumber:

1.  Alat/Bahan      :

·      Infokus

·      Handpone/android

·      internet

2.  Sumber            :

·      Buku Paket Cerdas Berbahasa Indonesia Kelas X SMA/MA. Edisi Revisi. Jakarta: Erlangga. 2016

·      Buku Penunjang, Bahasa Indonesia Kelas X. Edisi Revisi. Kemdikbud. 2016

·      Blogguru http://callidewi.blogspot.som

·      Chanenl https://youtu.be/ssv1LAmz9YM

·      http://wikipedia.id

·      Koran online

·      Lingkungan sekitar

Kegiatan Pembelajaran:

·           Pendahuluan (15 menit)

1.      Guru membuka pembelajaran dengan melakukan Kegiatan Awal Rutin. Kegiatan rutin ditujukan untuk membangun suasana pembelajaran yang positif danmempersiapkan murid untuk melakukan kegiatan pembelajaran selanjutnya(kesadaran diri, pengelolaan diri) yaitu dengan:

ü  Berdoa

ü  Dengan menggunakan Slide Bagan/Gambar Identify Your Feelings untuk mengidentifikasi perasaan kita saat awal akan dimulainya pembelajaran



ü  Murid memilih dari lingkaran warna dan perasaan yang ditayangkan atau disajikan, kemudian mengungkapkannya secara jujur

ü  Melakukan olah nafas dengan kesadaran penuh selama satu menit untuk menata ketenangan hati 

2.      Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan pemantik yang berkaitan dengan permasalahan yang terjadi di sekitar murid. Murid diminta menyampaikan permasalahan tersebut sebanyak mungkin. Misalnya, apa yang sekarang menjadi polemik di desa kalian? (kurang lebih 10 menit)

3.      Murid diajak untuk refleksi, apakah mereka dapat memberikan saran atas permasalahan yang terjadi sehingga akan menggiring ke materi pokok (Memberikan kesempatan murid untuk memberikan pendapat, guru dapat kesadaranmembangun koneksi/relasi danrasa percaya)

4.      Guru membuat catatan dan menggunakan informasi yang diperoleh untuk memetakan sejauh mana pengetahuan awal murid tentang teks eksposisi.

 

·           Kegiatan Inti

Kegiatan pertama (20 menit) Watch – Find/Search -- Write

1.      Guru meminta murid untuk menyimak tayangan video yang berkaitan dengan peta konsep yang akan dipelajari (durasi video 2-3 menit) sambal mencatat konsep apa yang harus dicari dan diidentifikasi baik dari membaca literatur (Buku Cerdas Berbahasa Indonesia, Engkos Kosasih, Kelas X SMA/MA), buku penunjang lain, jelajah blogguru Kunti Dewi Hambawani pada laman http://callidewi.blogspot.comsearching google, menonton youtube https://youtu.be/ssv1LAmz9YM atau laman lain yang terkait materi

2.    Setelah kegiatan menonton tayangan video, murid diminta untuk membentuk kelompok masing-masing 4 orang untuk mencari, mengidentifikasi, menemukan, menggali data terakait dengan konsep tentangpengertian teks eksposisi, perbedaan eksposisi dengan teks lain, dan unsur-unsur dalam teks eksposisi

ü permasalahan,

ü argumen

ü fakta

ü saran/rekomendasi


Kegiatan kedua (20 menit)-- Share

1.  Sesuai dengan kelompok masing-masing guru meminta untuk mempresentasikan hasil bedah konsep terkait pengertian teks eksposisi, perbedaan eksposisi dengan teks lain, dan unsur-unsur dalam teks eksposisi. Masing-masing tiap anggota kelompok mendapat kesempatan untuk berpresentasi sesuai kemampuan (kesadaran sosial).

2.  Kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi (penguatan atau sanggahan) secara santun sebelum selesai menjelaskan.menjawab atau menanggapi, audiens tidak boleh memotong penjelasan sebelum dipersilakan oleh moderator(kesadaran sosial).

3. Guru melakukan arahan, pengamatan, dan penilaian saat kegiatan pembelajaran sambal. Kemudian menjelaskan pentingnya memiliki empati dalam mendengarkan orang lain menyampaikan pndapat.

 

·         Penutup

1.    Murid melakukan refleksi sebagai:

Presentator

·      Bagaimana performan/sikap saat berpresentasi?

·      Bagaimana penggunaan kelancaran, kejelasan lafal, intonasi saat berpresentasi?

Audiens

·      Bagaimana sikap manggapi/menyanggah

·      Bagaimana kelancaran, kejelasan lafal, intonasi, dan keefektivan kalimat saat menanggapi?

2.   Guru menanyakan seberapa penting materi ini bagi murid untuk peka terhadap masalah yang terjadi di lingkungan daeram murid tinggal

3.    Guru memberikan apresiasi atas hasil belajar murid dan memberikan motivasi bermpati ketika bersama dengan teman, keluarga, dan masyarakat atau komunitas.

 

Refleksi Guru (Jurnal Pembelajaran)

Guru mengambil waktu sejenak 2 -3 menit hening sejenak untuk untuk mengenali emosi, pikiran, dan perasaan. Setelah itu tuangkan apa yang dirasakan saat pembelajaran bersama murid, apa kendala yang ditemukan, bagaimana memecahkan nantinya. Jadikan rambu-rambu untuk pertemuan selanjutnya.

Penilaian

Penilaian dilakukan saat pembelajaran berlangsung dengan menggunakan strategi observasi dan presentation/response assessment (penilaian presentasi/tanggapan). Penilaian portofolio berkaitan dengan hasil bedah konsep Teks Eksposisi perkelompok


                                                          

Lembar Kerja Peserta Didik

(LKPD)

 

SatuanPendidikan        : SMAN 8 Merangin

Mata Pelajaran             : Bahasa Indonesia 

Kelas/Semester           : X Fase E /1

Materi                        : Konsep/Isi Teks Eksposisi

Waktu                        : 2 X 45 menit

Kompetensi yang diharapkan tercapai: 

1. Pengetahuan tentang mengidentifikasi, membedah konsep teks eksposisi (permasalahan, argumentasi, pengetahuan, dan rekomendasi) teks eksposisi yang didengar dan atau dibaca

2.  Keterampilan dalam mempresentasikan konsep secara berkelompok secara lisan atau tertulis

Langkah-langkah kegiatan:

  •  Lakukan aktivitas persiapan dengan mengucapkan Basamalah untuk yang muslim dan yang non berdoa sesuai agamanya sebelum memulai kegiatan.
  •  Konsentrasi tinggi untuk menonton tayangan video terkait peta konsep teks eksposisi dan contohnya
  • Siapkan buku catatan, alat tulis
  • Siapkan buku paket, buku penunjang, HP/android dengan akses internet
  • Secara kelompok, identifikasi konsep pengertian teks eksposisi, perbedaan teks eksposisi dengan teks lain, dan unsur-unsur eksposisi (permasalahan, argument, fakta, saran/rekomendasi)
  • Secara kelompok, mempresentasikan isi konsep pengertian teks eksposisi, perbedaan teks eksposisi dengan teks lain, dan unsur-unsur eksposisi (permasalahan, argument, fakta, saran/rekomendasi)
  • Kelompok lain menanggapi dengan penguatan atau sanggahan
  • Kumpulkan portofolio bedah konsep terkait Teks Eksposisi


RubrikPenilaian
Rubrik Penilaian Kinerja Pemahaman Menyimak isi ceramah

Kegiatan              : Individu/Kelompok

Nama                   : …

Tanggal                :…

 

No.

AspekyangDinilai

TingkatKemampuan

1

Pemahamanterhadapkonsep tentang pengertian Teks Eksposisi

1

2

3

4

5

2

Pemahamanterhadap konsep tentang unsur-unsur Teks Eksposisi

 

 

 

 

 

3

Pemahaman terhadap konsep tentang perbedaan  Teks Eksposisi dengan teks lain

 

 

 

 

 

4

Keruntunanpengungkapan

 

 

 

 

 

5

Kelancaran/ kejelasan pengungkapan

 

 

 

 

 

6

Ketepatandiksi/ lafal

 

 

 

 

 

Jumlah Skor =Nilai=

 

Keterangan tingkat kemampuan:

       1.       Tidak ada unsur yang benar                                                : Kurang sekali
2.       Ad asedikit unsurbenar                                                       : Kurang 
3.       Jumlah unsur benar dan unsur salah seimbang                   : Sedang
4.       Ketepatan tinggi dengan sedikit kesalahan                         : Baik
5.       Tidak ada kesalahan, atau hampir tidak ada kesalahan       : Sangat baik

Skormaksimal: 25

Penghitungan nilai akhir dalam skala 0–100 adalah sebagai berikut Nilai Akhir

 


Lembar Observasi
Guru melingkari nomor yang sesuai dengan perilaku siswa
Kegiatan              : Individu/Kelompok
Nama                   :
Tanggal                :

Individu

Kelompok

1. Mengerjakan tugas dengan mandiri
2. Tidak mengerjakan/ kurang lengkap

1. Terlibat aktif dalam setiap tahapan selama mengerjakan tugas

2. Terlibat pasif

3. Percayakemampuandirisendiri
4. Kurang percaya diri, terlihat pasif

3. Berkomentarsecarapositif
4. Berkomentar kurang positif/ bahkan negatif

5. Tugas dikumpulkan sesuai  jadwal
6. Tugas terlambat

5. Menghargaiupayarekansekelompok
6. Kurang menghargai kelompok sendiri/kelompok lain

7. Berpikir kritis dalam menyampaikan gagasan
8. Berpikir asal-asalan atau tidak kritis

7. Negosisasi dalam kelompok untuk mencari kesepakatan
8. Kurang negosiasi dalam kelompo




 

Rabu, 14 September 2022

Koneksi Antarmateri Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid

 

Koneksi Antarmateri Modul 2.1 
Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid


              



Dengan:
Instruktur                : Bp. Sigit Kurniawan
Fasilitator                : Bp. Trireko Hernando
Pengajar Praktik    : Bp. Dede Rudiana

Oleh: Kunti Dewi Hambawani
CGP Angkatan 5 Kab. Merangin

 

“Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.”  (Arthur Aufderheide)

Pengertian Pembelajaran Berdeferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid (Tomlinson, 1999:14). Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdeferensiasi adalah proses pembelajaran untuk mendukung semua murid di kelas. Pembelajaran ini dapat dilakukan di kelas dengan memperhatikan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar dengan pada rumusan tujuan yang jelas, merespos kebutuhan belajar, menciptakan lingkungan belajar yang memicu untuk belajar dan bekerja keras, mengelola kelas, dan penilaiannya berkelanjutan

 

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal

yaitu dengan:

Pertama, menetapkan keputusan yang masuk akal, yaitu:

1.   Tujuan pembelajaran didefinisikan secara jelas. Guru harus paham capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran agar dapat menentukan bagaimana ia dapat membantu murid-murid untuk mencapainya

2.   Merespon kebutuhan belajar murid berdasarkan tiga aspek yaitu pertama, kesiapan belajar murid yaitu kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru. Kedua, minat yaitu respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan. Ketiga, adalah profil belajar murid (lingkungan, budaya, gaya belajar: auditori, visul, dan kinestetik).

 

Bagaimana saya mengidentifikasi kebutuhan murid:

a.  Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, guru benar-benar memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

b.  Melihat kesiapan dengan mengamati atau bertanya langsung terkait dengan materi yang akan dipelajari, setelah dipertemuan sebelumnya sudah diarahkan bahwa pertemuan hari ini akan mempelajari materi baru atau materi yang masih terkait dengan materi sebelumnya

c.  Untuk menumbuhkan minat dapat dengan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (sedikit humor, menggunakan model/alat), menyampaikan manfaat terkait dengan materi yang akan dipelajari, memberikan ruang gerak untuk mengenali dan mendalami secara pribadi materi yang akan dipelajari

d.  Menyediakan, memberikan kelonggaran murid untuk memilih lingkungan belajar yang nyaman (di dalam atau di luar kelas, di pustaka, di taman), fleksibel dengan memperhatikan gaya belajar murid. Saap MPLS, PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) dilakukan dengan Gform https://forms.gle/LaTaigXXh14r55PJ9

Pengenalan lingkungan sekolah

e.  Terkadang sesekali kita berdialog dengan guru lain yang sebelumnya mengajar, tentang bagaimana kemampuan murid si A si B, atau secara per-kelas

f.   Ketika kegiatan MPLS untuk kelas X, panitia menyebar kuesioner tentang minat kegiatan ekstrakurikuler dalam link https://forms.gle/5NV7mx3ttc81oszh7

Hasil instrumen bakat minat

g.  Ketika awal tahun pelajaran, siswa kelas X kebetulan saya mengajar di kelas X dan mengajar Bahasa Indonesia), murid diminta untuk menuliskan minat apa yang disukai pada mata pelajaran Bahasa Indonesia: drama, baca/menulis puisi, ceramah/pidato, bercerita, menulis cerpen/novel, menulis karya ilmiah, MC, Pembaca berita, Pantomim, atau keterampilan lainnya

h.  Seringnya saya melihat respon murid ketika saya masuk kelas, lalu mengamati sikap perilaku murid. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bagaimana minat murid terhadap materi atau pembelajaran yang akan dilaksanakan.

i.   Terkadang saya menyempatkan memberikan pertanyaan pemantik untuk melihat respon murid.


3.   Menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar

Bagaimana caranya, saya akan mencoba untuk menggunakan strategi mendeferensiasi pembelajaran yaitu dengan menggunakan salah satu atau beberapa dari deferensiasi konten, deferensiasi proses, dan deferensiasi produk

 

Implementasi dalam pembelajaran yang saya lakukan antara lain:

a. Deferensiasi Konten: menyiapkan materi pengetahuan, konsep, dan keterampian dalam format buku, blogger milik saya sendiri http://callidewi.blogspot.com, PPT, video, rekaman (audio), poster canva, media kartu-gunting-kertas. Materi dikemas dengan bahasa yangmudah dipahami murid. Mengartikan kata popular (kata kunci)

b. Deferensiasi Proses: murid berlatih memahami atau memaknai konten. Saya akan berusaha mendampingi dngan melihat keragaman murid. Mengelola kelas dalam pembelajaran secara individu ataupun kelompok. Memberikan kebebasan murid untuk mencari, menemukan pembelajaran yang sesuai minat, memilik lingkungan belajar di dalam atau di luar kelas, di pustaka, taman, gazebo, tepi kolam rawa. Mereka bebas memilih

c.  Deferensiasi Produk, memberika kelonggaran bagi murid yang memiliki tingkat pemahaman yang membutuhkan bimbingan dengan menjawab semampu mereka. Yang memiliki kemampuan cukup mahir dapat membuat presentasi. Yang sangat mahir dapat membuat inovasi. Memberikan kebebasan berekspresi sesuai keinginan kesenangan lewat tulisan, diagram/grafik, demonstrasi, membuat video, rekaman, gambar, naskah, atau memanfaatkan internet (media sosial) untuk berbagi karya. Ingat, produk harus mngacu pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

4.   Manajemen kelas yang efektif terkait guru menggunakan prosedur, metode yang fleksibel, terstruktur jelas, meskipun kegiatan berbeda kelas tetap berjalan efktif. Mengelola kelas dengan budaya positif yang telah diyakini bersama. Praktik yang sudah saya lakukan adalah bersama murid membuat keyakinan kelas dengan memanfaatkan http://mentimeter.com dengan mengakses laman https://www.menti.com/oitkx22cs2 dan hasil presentasinya pada laman https://www.mentimeter.com/app/presentation/783aa71be53207770c1e31f170498249/20348cd3ce14


Keyakinan Kelas/Mentimeter.com

5.   Penilaian berkelanjutan

     Tujuan penilaian berkelanjutan ini adalah untuk melihat ada perkembangan atau tidak dari pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian formatif dapat menentukan seefektif apa pembelajaran deferensiasi. Penilaian ini dilakukan saat proses pembelajaran. 

Kedua, memahami bahwa pembelajaran berdeferensiasi bersifat proaktif dan kualitatif. Dalam kelas, guru perlu selalu berasumsi bahwa murid yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda dan secara proaktif merencanakan pembelajaran yang menyediakan berbagai cara untuk mengekspresikan dan mencapai tujuan pembelajaran dan memiliki dampak kualitas bukan kuantitas (berapa banyak).

Ketiga, Penerapan yang telah saya lakukan adalah:

1)  Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, guru benar-benar memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

2)  Melihat kesiapan dengan mengamati atau bertanya langsung terkait dengan materi yang akan dipelajari, setelah dipertemuan sebelumnya sudah diarahkan bahwa pertemuan hari ini akan mempelajari materi baru atau materi yang masih terkait dengan materi sebelumnya

3)  Untuk menumbuhkan minat dapat dengan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (sedikit humor, menggunakan model/alat), menyampaikan manfaat terkait dengan materi yang akan dipelajari, memberikan ruang gerak untuk mengenali dan mendalami secara pribadi materi yang akan dipelajari

4)  Menyediakan, memberikan kelonggaran murid untuk memilih lingkungan belajar yang nyaman (di dalam atau di luar kelas, di pustaka, di taman), fleksibel dengan memperhatikan gaya belajar murid

5) Terkadang sesekali kita berdialog dengan guru lain yang sebelumnya mengajar, tentang bagaimana kemampuan murid si A si B, atau secara per kelas

6)  Ketika kegiatan MPLS untuk kelas X, panitia menyebar kuesioner tentang minat kegiatan ekstrakurikuler dalam link https://forms.gle/5NV7mx3ttc81oszh7

7)  Ketika awal tahun pelajaran, siswa kelas X kebetulan saya mengajar di kelas X dan mengajar Bahasa Indonesia), murid diminta untuk menuliskan minat apa yang disukai pada mata pelajaran Bahasa Indonesia: drama, baca/menulis puisi, ceramah/pidato, bercerita, menulis cerpen/novel, menulis karya ilmiah, MC, Pembaca berita, Pantomim, atau keterampilan lainnya https://forms.gle/A9YZv8mgY9c3CUBN8

Minat bidang bahasa dan sastra

8)   Seringnya saya melihat respon murid ketika saya masuk kelas, lalu mengamati sikap perilaku murid. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bagaimana minat murid terhadap materi atau pembelajaran yang akan dilaksanakan.

9)  Saya menyempatkan memberikan pertanyaan pemantik untuk melihat respon murid.

10)Bersama murid membuat keyakinan kelas dengan memanfaatkan mentimeter pada link memanfaatkan http://mentimeter.com dengan mengakses laman https://www.menti.com/oitkx22cs2 dan hasil presentasinya pada laman

11)Penilaian saya lakukan saat proses pembelajaran berlangsung. Bahasa Indonesia sekecil apapun hal yang dilakukan oleh murid tidak boleh dikesampingkan. Dengan benar-benar melalukan pengamatan, penilaian diskusi (keaktifan), kekritisan berpendapat, keinovatifan tugas, semuanya terangkum dalam penilaian  keberlanjutan. 

 

Keterkaitan modul 2.1 dengan modul lain.

1.    Keterkaitan modul 2.1 dengan modul 1.1 (Refleksi Filosofi KHD)

Sesuai amanah tujuan pendidikan berdasarkan filosofi KHD adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Artinya pendidikan itu berpusat pada murid, murid, dan murid. Guru sebagai “pengemong”. Mengingat tujuan pendidikan tersebut maka kaitannya dengan peran guru  sangat besar yaitu dalam guru harus memperhatikan kebutuhan belajar murid . Menuntun dan membimbingnya dengan memperhatikan bagaimana dia melihat kesiapan belajar, memperhatikan minat, dan melihat profil belajar. Seorang penuntun harus melihat bagaimana ia harus mendesain dalam pembelajaran diibaratkan petani yang menyemai benih, harus disiapkan lahannya sebaik mungkin, dijaga, dirawat, disiangi, dipupuk, agar panen dengan hasil baik. Pembelajaran deferensiasi memperhatikan proses menuntun tersebut dengan memperhatikan strategi konten, proses, dan produk.

2.    Keterkaitan modul 2.1 dengan modul 1.2 (Nilai dan Peran Guru Penggerak)

Guru sebagai penuntun juga dituntut untuk menumbuh-kembangkan pelajar berprofil Pancasila dengan mengilhami nilai dan peran guru penggerak. Dalam pembelajaran berpusat pada murid, maka melihat lima kebutuhan dasar dari murid maka keteladanan dari kita merupakan hal besar yang harus diperhatikan. Sebagai agen perubahan menyelami nilai pengerak dengan berpusat pada murid, mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif menjadi kendali besar dalam proses perubahan pada murid. Peran guru penggerak antara lain sebagai pemimpin pembelajaran, coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan dan penggerak komunitas. Membaca arah keterkaitan dengan modul 2.1 maka pembelajaran dengan memenuhi kebutuhan murid dengan pembelajaran deferensiasi sangatlah berhubungan timbal balik. Pembelajaran dengan refleksi guru dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan akan menyelaraskan dengan pembelajaran deferensiasi. Sbagai pemimpin pembelajaran, guru secara sigap harus mengenali kesiapan belajar sejak awal. Menumbuh-kembangkan daya kreativitas dan inovasi  diri dan murid akan terwujud dalam produk yang dihasilkan dalam pempelajaran deferensiasi.

3.    Keterkaitan modul 2.1 dengan modul 1.3 (visi Guru Penggerak)

Visi tau arah ke depan seperti apa dari proses pembelajaran yang dilakukan?  Tergerak dari pertanyaan tersebut maka pembelajaran deferensiasi membawa perubahan pada murid dan pada sebuah komunitas (sekolah) dengan prakarsa IA (inkuir Apresiatif) dengan pendekatan BAGJA, megarahkan pada buat pertanyaan apa yang sudah ada. Ambil, kumpulkan kembali yang sudah ada (asset-aset, budaya baik). Gali mimpi, apa yang dapat diraih nanti, apa harapan. Jabarkan rencana secara jelas. Dan  Atur eksekusi, dengan siapa. Di sinilah letak keterkaitan dengan modul 2.1, untuk perubahan besar maka kolaborasi dalam menyediakan lingkungan yang mengundang untuk perubahan. Memanfaatkan segala potensi yang ada di sekolah dalam menunjang pembelajaran deferensiasi sangatlah penting.

4.     Keterkaitan modul 2.1 dengan modul 1.4 (Budaya Positif)
Budaya positif tercermin dari disiplin positif yang sudah ada dan sudah dibiasakan dibudayakan di sekolah. Disiplin positif akan mengarahkan bagaimana pembelajaran berpusat pada murid dengan memperhatikan bagaimana menciptakan lingkungan positif untuk murid dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan universal. Selain itu budaya positif juga mengiring guru untuk memahami kebutuhan dasar murid kita. Pemahaman tersebut sejalan dengan modul 2.1 tentang pemenuhan kebutuhan belajar murid dengan pembelajaran berdeferensiasi, semua tertuju untuk pelayanan terpusat pada murid.

Kesimpulan secara garis besar keterkaitan dari modul 1.1 s.d modul 2.1 bahwa menuntun murid sesuai kodratnya menuju keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya dengan tiga filosofi KHD yaitu sistem among dengan menerapkan nilai-nilai kebajikan universal. Memfokuskan nilai dan peran pengerak pada pembelajaran berpusat pada murid sebagai pemimpin pembelajaran. Menentukan arah dan harapan masa depan dengan strategi BAGJA untuk menumbuh kembangkan budaya positif yang sudah ada dalam pemenuhan kebutuhan belajar murid dengan menerapkan pembelajaran berdeferensiasi dengan tetap mempedomani pada penilain berkelanjutan.

 

 

 

 

 



Senin, 05 September 2022

 



https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fwww.tnbukitduabelas.id%2Forang-rimba&psig=AOvVaw1VIDI7Mzu_OAvvR09G8inM&ust=1675703965902000&source=images&cd=vfe&ved=0CBAQjRxqFwoTCOjVvfHx_vwCFQAAAAAdAAAAABAE


Sepotong Dewa Berserak di Kuali

(Nadia Putri Rahayu XII IPS 1)

 

        Rinai melepas, pucat. Hutan setengah gundul bersembunyi bawah kabut yang lembab. Satu-dua turun dari atas terpal. Kalau sudah begini mereka diam, bukan main derasnya. Keroncong itu bernyanyi dalam rongga, bukan cacing tapi hanya degungan guntur. Bau melorot, menghunus dua lubang hitam. Budak-budak berjuntai seraya menatap batangan ringkih. Angin meraup.

        Tubuh merinding, bulu kuduk menengang, merengkuh badan berkancut. Rambut keriting bergerincak kutu durjana. Muka tempias oleh air, mereka tetap duduk bergelayut. Mamak-mamak bergumul di tanggul besar, ikut berlindung bawah terpal biru. Dari jauh anjing menyalak, berlari, menyobek derainya rinai. Salah seorang berkancut ikut berpongah di antara lebih orang.

        Muka mereka tertekuk, menyernyit oleh deburan air. Melihat keadaan mereka sepertinya buruan kali ini tak membuahkan hasil. Semenjak pembalakan yang mencukur, mengkropos sebagian hutan yang dulunya di kenal guna lahan terbuka, hunian, atau PETI yang merebahkan setiap batangan selayar pegulat paling tangguh, paling angkuh. Perburuan kian melompong, terkadang dapat satu, pernah pula bawa angin garing. Mulai sukar mencari makanan. Tak semudah dulu yang baru lepas satu anak panah rebah satu kijang atau babi hutan terkena racun. Buah dan sayuran pun ikut langka tak seperti dulu yang tinggal menyibak rumpunan semak dapat sekarung jamur dan sebagainya.

        Seorang budak melompong, mukanya ikut tempias, ngilu menyeruak. Matanya mengeresot, menahan perih. Ketika gumulan itu kian mendekat tubuhnya menengadah, penasaran. Namun kemudian helaan berat keluar dari mulutnya, kembali melempoh bersama budak jember (kotor) lainnya. Mamak-mamak menggerutu, lihat hasil tangkapan tak memuaskan. Pergi pagi-pagi, pulang larut bawa wajah kosog. Batal masak, terpaksa kunci perut sehari. Helaan kecewa mengabur pula di antara budak dan bapak.

        Redup kornea itu, kembali merengkuh tubuh. Kulit jember berbasah-basahan, sehelai carik yang terbungkus tak sesuai untuk setubuh. Sebelah tangannya menampung air yang turun, meresapi  sejuk  dan  menikamnya  itu.  Bapak-bapak  dan  pemuda tanggung mengikat

 

anjingnya pada salah satu tanggul yang juga terlindung dari hujan, duduk bersama kawanan lain. Tubuhnya yang kecoklatan mulai membeku, terlalu lama berjimak dengan angin dan hutan yang entahlah di sebut hutan.

        Air mulai mengalir di bawah panggung terbuka berukuran kecil mirip gubuk namun tak berdinding, hanya terlindung oleh terpal yang keempat sisinya di ikatkan pada batangan pohon yang tersisa. Nenek mengepul asap, bersaing dengan pemuda dan bapak-bapak, sekedar lintingan tembakau kering tanpa bumbu penyedap. Tak jarang mereka bersua dengan masyarakat yang menyadap karet atau menimbang jangjangan, mengutip serakan brondol muda. Tempat mereka terang, tersibak publik, siapa saja yang melintas dapat dengan bebas melihat mereka yang berkancut, kutang jamuran berenda. Bila dulu cahaya kehijauan terbias daun dan ranting-ranting, menyembunyikan sosok, kini hutan itu bercelah. Mengangga.

        Rindu benar hati mereka, sama pula dengan Kantap, budak yang duduk melompong, yang rindu akan tanggul-tanggul dan kicauan burung, desau ular, bisingan kumbang, gemeletuk kulit kayu kering, pongahan simpai bergajul yang menghidupkan pohon-pohon di pagi berkabut. Dengusan babi hutan, auman dewa mereka, harimau.

        Air dalam telapak tangan mulai melembak, tumpah ruah, mengenai lengan. Bukan alunan keroncong di perut bukan pula kelabu yang menumpahkan lahar yang membuatnya diam. Hanya saja kesepian itu mulai menggerayangi sosoknya, mengantarnya pada neraka. Dia percaya pada sosok dewa namun dewa itu lenyap entah berlabuh kemana, bagaimana nasibnya.

        Menahan tangis.

        Dewa itu yang menjaga hutan, melindungi mereka, memberi berkah, seperti Bapa. Sosok tangkas dengan auman yang di percaya dapat menyibak reranting lebat daun Bermuda, gagah melempar mereka, mencabik mereka yang merusak. Dewa itu ikut lenyap. Kalau sudah begini bencana kian menjadi, kiamat meluluh-lantak, dewa murka.

Bapak duduk di sebelahnya, merangkul bahu yang dingin. Sebagian nenek menginang, memuntahkan cairan merah dari mulutnya, kembali mengunyah, yakin hal itu sebagai bentuk kecantikan dan kesehatan, diikuti oleh mamak-mamak.

 

 

        “Besok kito nak makan” ujar bapak seraya tersenyum.

*******

        Dingin memburu, di antara batangan lembab, tanah-tanah merah melorot, air keruh pekat tergenang dalam kubangan. Tetesan air bergayut pada ujung dedaunan, rumpunan, reranting. Serangga satu-dua bernyanyi pilu, merong-rong, sebab rumah tak kenal tempat pulang tak punya. Pemuda dan bapak berkancut itu melepas anjing, ikut tergopoh, teriak, anjing menyalak.

        Mentari rupawa dewa belum jua menyembul, ayam hutan belum jua berkokok,  langit lazuardi bersih masih menggelap. Api kecil meliuk-liuk, mamak menambah kayu setengah basah ke dalamnya. Api bergemeletuk, meretak, menjilat-jilat, membumbung lantas kembali mengecil, abu terbang. Kantap kembali merenung, melompong seraya nanar.

        Di tangkupnya telapak tangan kecil itu, berdoa pada dewa. Bukan tentang hasil yang akan dia makan nanti melainkan berdoa untuk dewa yang mereka agungkan. Lamat-lamat mentari merangsek, menyorot tepat pada celah batangan. Satu-dua penyadap karet beraktivitas, motor berkoar, seolah kesal sebab harus memapah di kelokan becek bergulat dengan liat dodol tanah.

        Mamak siap mengajak budaknya membasuh diri sekedar menyapu tubuh dengan air dan menggosoknya. Gadis-gadis muda menyibak sarung sedang mereka yang sudah dewasa, sudah menikah menaikan tali kutang yang melorot.

*******

        Kantap kembali mengasingkan diri, duduk melompong di bawah terpal, menatap langsung kearah utara hutan yang sebagian menjelma, terganti pepohonan yang di sadap, di tampung getahnya, di jual. Matahari tepat di atas ubun, tidak terik, tidak juga mendung, sedang saja. Budak lainnya bergerincak meski genderang kian melilit, meng-guilotin.

        Dari jauh terdengar nyalakan anjing, berlari, saling berlomba seakan berebut hendak menyampaikan kabar bahagia dari sang maha pencipta. Semua kepala tengadah, Kantap ikut menoleh. Para lelaki  pulang dini,  melambai, di belakangnya  buntelan   karung  di  gunggung

 

 

bersama seakan itu berat sangat. Semua berkoar ria, mereka tahu dewa telah menurunkan rezekinya.

        Anjing-anjing tiba lebih dulu, lidahnya menjulur keluar-masuk, tidak sabaran. Ketika karung di buka, semua terdiam, ya dewa apa gerangan sehingga sumringah menebar. Anak keturunan akan menerima bala, murka para dewa, sengsara hidup kian melarat, neraka mulai menunjukan jurang, dunia gelap kian merengkuh, budak meringis ketakutan, rasa lapar merobohkan. Kantap mematut, netranya kopong. Serasa ada timah yang melubangi jelu. Sedikit bergetar, mamak-mamak membawa serta hewan buruan tersebut untuk disiangi.

        Mereka bergumul, melingkar. Tepat di atas talas daging yang di bakar seadanya tersaji, para tetua dan orang dewasa mulai melahap, mencuil daging tersebut. Namun Kantap tidak ikut makan, tidak juga menyentuhnya. Dia hanya beriba, menahan derai. Hatinya berkecamuk, seakan dibanting, digampar oleh kenyataan pahit. Lihat dewa mereka kembali, seekor harimau dengan auman gagah itu terbaring. Dewa mereka, kepercayaan mereka, hewan suci terpaksa dikonsumsi olehnya sebab tak ada pilihan.

        Bila sudah begini siapa lagi yang akan melindungi mereka dari kepunahan? Bapa mereka sudah dimakan, diambil dagingnya. Satu-dua mamak makan menahan perih, dalam hati berdoa untuk keselamatan mereka. Kantap hanya menatap lekat pada budak lainnya yang makan sedikit terpaksa sebab sudah berhari keroncong mengikis dinding lambung, perih. Dia berpikir, “Macam mano biak kami endak kekurangan makanan? Ya dewa tangguh maafkan kanti, mamak, bapak.”

        Kantap berdiri, membuat mereka ikut tengadah. Dia meringis, meraih tulang harimau itu.

        Endak adokah caro biak kito tetap memegang teguh kepercayaan, setia kepado dewa, bukannyo memakan? Contohnyo bertanam macam mereka  ujar Kantap menahan derai. Tetua terlihat bersungut.

        Endak biso, kito ko tinggal berpindah tempat endak mungkin biso bertanam” Kantap terdiam, uratnya menegang. Sebagian menunduk, mengelus daging dewa mereka.

        Kato dio negeri ko makmur, tanam apo be tumbuh. Itu memang tradisi tapi apo salahnyo kito mencubo untuk  mengganti  daging  buruan  dengan  yang lain.  Dewa  murka,

 

 kiamat akan menelan, nerako mengango. Biadab mereka, kejam” Kantap kian menjadi, kini meraung, tidak tega Bapanya dimakan, dicerna. Marah kepada Nagara, kepada mereka yang mengatakan Indonesa makmur, nyatanya mereka mulai terpojok, punah, bahkan terpaksa memakan dewa sendiri akibat kebringasan dan kerakusan mereka manusia bertitle sarjana, berilmu tinggi.

        Tetua itu terdiam, tidak tahu harus berujar apa. Kantap sesenggukan, meraung, luluh lantak, dijejaknya tulang itu ke permukaan dahi. Jelu menikam, darah muncrat dari luka yang kian menganga. Salah satu budak meletakkan kembali sepotong daging itu, tidak enak hati untuk melanjutkan.

        “Kito cari batang ubi kayu dan pisang. Mulai mencubo, semoga dewa selalu menyertai, maafkan kito kanti basamo” Kantap terdiam, tangisnya membumbung.

        Salah seorang pemuda menggali lubang dengan kayu runcing, menguburkan dewa mereka, berharap tanah subur oleh siraman berkah. Kerakusan itu menjilat mereka, mengantar pada tubir jurang. Dalam hati Kantap berdoa, auman itu dapat dia dengar meski jauh jaraknya. Mamak, Bapak, Tetuo mematut mangut. Entah akan berdiam atau kembali menyeruak belukar liar. 

Artikel Sastra

Teks Editorial

Teks Editorial  Teks editorial adalah  teks yang  ditulis oleh redaksi media  dan merupakan  pandangan dan sikap resmi suatu media terhadap ...