Eksplorasi Konsep Modul 1.1
https://drive.google.com/file/d/1yMHDm3rriz6KtDJqCwZhlUMJ3v2CsZjv/view?usp=sharing
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1
Merenung di titian kolam sempit, kala kepala sudah mulai mual dengan segala celoteh yang kopong
Eksplorasi Konsep Modul 1.1
https://drive.google.com/file/d/1yMHDm3rriz6KtDJqCwZhlUMJ3v2CsZjv/view?usp=sharing
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.1
Karya: Dewicalli
Mimpi Anak Belitung pada Novel Sang Pemimpi
Sebuah Kritik Sastra
Mimpi adalah bagian kehidupan. Tanpa mimpi kita akan kurang bersemangat untuk menjalani kehidupan. Novel Sang Pemimpi adalah sebuah novel kedua karya Andrea Hirata yang merupakan bagian tetralogi Laskar Pelangi.
Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.
Tiga tokohnya, Arai, Ikal, dan Jimbron, yang digambarkan sebagai pemimpi telah menamatkan SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Dari sinilah perjuangan dan mimpi mereka dimulai.
Tidak tanggung-tanggung, Arai dan Ikal bermimpi untuk kuliah ke Perancis, sedangkan Jimbron memutuskan untuk menetap di Belitung. Demi impian tersebut, apapun mereka lakukan.
Impian Arai dan Ikal untuk kuliah di Prancis terwujud, Namun, ini barulah awal perjuangan yang sesungguhnya.
Kekuatan novel ini terdapat dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan selalu berusaha serta berdoa. Selain itu, dengan kekuatan mimpi, jangan pernah menyerah dan larut dalam kesedihan. Selain itu, penulis mengajarkan tentang nilai-nilai untuk patuh pada perkataan orang tua.
Dalam novel Sang Pemimpi, juga terdapat kekurangan yang dapat menjadi masukan bagi penulis. Pembaca dapat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan karena ada penggunaan bahasa daerah dan bahasa Inggris yang tidak dijelaskan di glosarium. Sebaiknya penulis melengkapi kosakata berbahasa daerah dan asing pada glosarium sehingga pembaca tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut. Hal yang digambarkan lewat kata-kata dari kutipan. “Lalu kami beralih menjadi part time office boy di kompleks kantor pemerintah. (hal. 69).
(https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-ciri-struktur-kritik-sastra-dan-esai)
CANDU. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keterikatan masyarakat kita pada media sosial. Semua kalangan seakan “terjerat” dalam rutinitas yang sama setiap harinya. Terlebih lagi kaum remaja. Remaja larut dalam aktivitas yang satu ini hampir sepanjang hari. Tentunya ada keasikan tersendiri sehingga remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Salah satunya, sebagai wadah menuangkan berekspresinya.
Penggunaan media sosial di kalangan remaja akan memberikan dampak bagi penggunanya. Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja. Misalnya tentang standar kecantikan di kalangan remaja perempuan. Hal lainnya yang sangat berbahaya dari media sosial adalah pornografi dan kejahatan melalui internet.
Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.
Penggunaan teknologi modern tentunya tidak lepas dari pengaruh positif dan negatif. Tentu saja hal ini bergantung dari penggunanya, Remaja diharapkan dapat membatasi diri sendiri serta kontrol dari orang tua sangat diperlukan. https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-ciri-struktur-kritik-sastra-dan-esai
Argumentasi:
“Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
Menurut saya mengenai padangan Bob Talbert di
atas, adalah membelajarkan anak tentang ilmu pengetahuan adalah baik, benar
menjadikan anak menjadi lebih mampu, lebih pintar dalam hal ilmu (pengetahuan).
Namun sesungguhnya, mengajarkan murid kita tentang apa yang jauh lebih berharga
lebih utama adalah yang terbaik, yaitu bagaimana laku mereka ketika menyelesaikan
masalah baik dalam mengambil keputusan terbaik dari situasi yang dihadapi saat
itu. Memutuskan sesuatu tidaklah mudh sebab keputusan itu adalah sesuatu yang
berharga, maka dalam memutuskannya pun tidak boleh gegabah. Butuh pertimbangan
apakah terpusat pada murid, dapat dipertanggung jawabkan, dan berlandaskan
nilai kebajikan universal.
Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita
anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan
kita apabila dalam kenyataannya kita dapat
mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, terimplementasikannya nilai atau prinsip dalam pengambilan
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada sesama, kepada lingkungan,
dan kepada Allah Ta’ala. Hal tersebut dapat terlihat dari tercerminnya budaya
positif dalam pengambilan keputusan misalnya, pemilu raya OSIS. Rembuk
Pagelaran seni, Rapat Pelaksanan Kegiatan sekolah (Haornas, Hari pahlawan, 17
Agustus-an, dan lain-lain). Yang pasti dapat dilihat adalah adanya perubahan
positif yang terjadi dilingkungan sekolah.
Pengambilan keputusan itu akan terimplementasi
ketika saya dalam proses pembelajaran mampu memenuhi kebutuhan murid (kesiapan
belajar, minat, dan profil belajar murid) secara tepat (pembelajaran
berdeferensiasi). Memutuskan apakah akan dilaksanakan pembelajaran atau mundur
waktunya itu penting. Saya harus memastikan murid saya siap, jika belum siap
maka saya harus mengambil keputusan bagaimana agar murid saya siap belajar.
Murid kita beragam, artinya mereka pasti memiliki minat dan profil belajar berbeda,
maka pembelajaran tidak boleh saya memutuskan satu strategi. Pertimbangan dalam
memutuskan pendekatan pembelajaran agar pelayanan tetap fokus berpusat pada
murid saya juga harus diperhatikan.
Education is the art of
making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Menurut saya maksud kutipan tersebut
adalah proses menuntun murid merupakan sebuah karya mencipta, menebalkan laku
murid agar mampu menguasai diri dalam
bertindak sesuai kewajiban moral dan nilai-nilai kebajikan universal. Bagaimana
melakukannya? Adalah dengan pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang
berdasarkan nilai kebajikan universal sehingga dapat dipertanggung jawabkan.
a. Ing Ngarso Sung Tulodho, makna
tersirat dari pratap ini adalah menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan,
patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain perbuatan-kelakuan-sifat
dan lain-lainnya.
Artinya sebagai pemimpin pembelajaran, pendidik mampu memberikan contoh
keteladan dalam memutuskan bagaimana segala sesuatu itu harus diambil secara
bijak sesuai nilai kebajikan universal.
b. Ing Madyo Mangun Karso, memberdayakan,
menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal,
cara, dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri murid kita. Artinya menggugah
semangat untuk mampu mengambil keputusan yang tepat, dapat
dipertanggungjawabkan dan berlandaskan nilai kebajikan universal, meski dalam
keadaan banyak aktivitas.
c. Tut Wuri Handayani, penuntun
yang baik harus mempengaruhi,
memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif lain agar orang
lain bertumbuh dan maju. Dengan
dorongan semangat yang kuat maka insya Allah sebuah keputusan akan membawa manfaat besar
bagi murid.
Koneksi Antarmateri Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik
Fasilitator : Bapak Trireko Hernando,
S.Pd. M.Pd.
Pengajar
Praktik : Bapak Dede Rudiana,
S.Pd.
CGP :
Kunti Dewi Hambawani
https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fpenaguruntt.com%2Ftugas-_2-1-a-9_-pembelajaran-berdiferensiasi%2F&psig=AOvVaw0QFZT6GdiRW4eS-3hBYcCr&ust=1665332234392000&source=images&cd=vfe&ved=0CAwQjRxqFwoTCLjH0JWE0foCFQAAAAAdAAAAABAJ
Tujuan pendidikan sesuai filosofi Ki hajar Dewantara adalah menuntun
segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai
anggota masyarakat. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya
kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan
dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.
Pendidik sebagai “Pamong” memberikan kebebasan pada muridnya. Meskipun demikian, Pamong harus memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lain. Apalagi kita meyakini bahwa setiap anak itu unik dan beragam. Maka pendidik harus memikirkan bagaimana memberikan layanan pendidikan yang memungkinkan. Fakta bahwa murid-murid kita memiliki karakteristik yang beragam, dengan keunikan, kekuatan dan kebutuhan belajar yang berbeda, tentunya perlu direspon dengan tepat.
Sebagai pemimpin
pembelajaran, guru menjadi pemimpin yang menaruh perhatian penuh secara sengaja
pada komponen pembelajaran, seperti kurikulum (intra, ekstra, dan ko-kurikuler), proses belajar-mengajar, refleksi dan asesmen yang otentik dan
efektif, pengembangan guru, pemberdayaan dan pelibatan komunitas yang
kesemuanya mendorong terwujudnya wellbeing (kondisi yang berpihak pada
murid) dalam ekosistem pendidikan di
sekolah. Guru menciptakan kondisi yang nyaman untuk belajar sesuai dengan
kebutuhan murid. Lingkungan belajar di sekolah memungkinkan anak untuk
mendapatkan manfaat maksimal dari belajar. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru
berperan besar dalam membuat lingkungan sekolah yang aman, nyaman,
menyenangkan, tetapi tetap menantang, dan relevan untuk para muridnya. Orintasinya
adalah untuk kepentingan tumbuh, kembang, dan mekarnya murid.
Coaching. Tidak
terpikir sama sekali oleh saya, bahwa pembelajaran ini akan semenarik ini.
Sepengetahuan saya yang namanya Coach itu hanya terimplementasi di bidang
keolahragaan saja. Dan ternyata. Masya Allah, pembelajaran coaching ini membangunkan
saya dari pola pikir dan pembelajaran saya yang selama ini sebagai “pemberi
solusi” ke murid, ke rekan sejawat, atau ke orang lain. Sebuah paradigma
menggali potensi, kelebihan seseorang dengan umpan yang kita lempar.
Benar-benar pembelajaran yang menyenangkan. Praktik coaching yang asyik
seolah-olah saya memang benar-benar seorang coach yang dibutuhkan oleh coachee
ketika menyampaikan keluhan/masalah. Tidak mudah ternyata, saya harus banyak
referensi, pengalaman, literasi bagaimana menjadi coach yang mampu menggali
kekuatan, potensi, daya juang si coachee.
Di sekolah,
di rumah dengan tetangga tak dapat dielak ketika secara tak sadar proses
mengcoaching itu terkadang saya lakukan dengan teman yang menumpahkan
unek-uneknya. Hanya saja penyelesaiannya masih di saya, artinya coaching saya
itu bukan coaching, tetapi curhatan. Sebab saya masih terfokus pada situasinya.
Saya masih menjadi pemberi solusi, meskipun sesekali saya bertanya “Lha terus
koe pie? (Lha terus kamu bagaimana). Si coachee pun ngalir saja menjawabnya. Setelah
mempelajari modul ini, dengan paradigm dan prinsip Coaching yang dipadukan
dengan RASA dan pendekatan TIRTA, lalu praktik langsung dengan teman CGP,
mendengar secara aktif curhatan Bu Nia (coachee), bertanya dengan menyusun
pancingan yang pas untuk menggali potensi coachee itu tidak mudah. Tidak
segampang seperti ketika saya mengomentari curhatan emak-emak. Masya Allah,
ikut mengalir, ikut turut larut bersama coachee, jujur saya terkadang masih
hanyut ke cerita coachee. Dan lagi-lagi teori coaching mempertegas, fokus,
fokus, dan kembali fokus pada coachee yang akan dikembangkan. Seperti disentil
jika ingat “Maaf, ini bukan curhatan,
Bapak/Ibu…”(Pesan Bapak TriReko, Instruktur kami). Itu akan saya jadikan
dayung kuat sehingga akan mengendalikan arah ketika air sudah mengalir.
Hal baik
lain yang diperoleh dari modul 2.3 ini memberikan pembelajaran yang sangat luar
biasa bagi saya bagaimana memahami bahwa “seseorang
itu sesungguhnya memiliki daya/kekuatan, potensi, dirinya mampu sendiri untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya”. Ini adalah titik fokus
pembelajaran “Coaching” ini. Fokus pada
coachee yang harus dikembangkan, bukan pada situasinya. Menyusun pertanyaan
yang menggali ide, memancing coachee untuk menemukan alternatif itu tidaklah mudah. Ini menjadi PR bagi saya,
akhirnya saya kembali teringat dengan Tayangan “Kick Andy” di Metro
TV. Sepertinya saya harus melenggang ke sana untuk menikmati cara Andi F. Noya
mengumpan pertanyaan. Yang pasti literasi, baik buku ataupun digital.
Setelah
berpraktik menjadi Coach, saya juga belajar berkolaborasi dengan rekan CGP
dengan peran pengamat (supervisor). Sebenarnya posisinya ini lebih dari Coach,
sebab yang diamati adalah proses coachingnya. Meskipun sebagai supervisor ada
rubriknya, Bagaimana mempraktikkan saat praobservasi, lalu obserasi, dan
memberikan umpan balik (pascaobserasi). Itu bukan perkara mudah. Lagi-lagi saya
merasa masih sangat jauh dan harus banyak belajar. Seperti, membenahi berbahasa
saya agar mudah ditangkap atau dipahami oleh coach, ataupun coachee. Lalu,
mengurangi latah “/e/” yang selalu muncul di diri saya ketika berbicara.
“Ketika
praktik menjadi pengamat, saya harus menyimak (coaching Bu Nia dan Pak Zaky),
pasti sedikit grogi, sebab teman-teman CGP ini kemampuannya di atas saya.
Hihihi… Nervous deh. Namun, saya harus belajar agar bisa. Maka ketika menyimak
coaching mereka membuat saya harus benar-benar mendengarkan seksama. Mungkin
lebih dari coach yang harus mendengar aktif kali ya. Sebab saya harus belajar berbincang
dahulu sebelum praktik caching dilakukan. Lalu mengobservasi proses coaching,
dan memberikan umpan balik (pascacoaching). Dalam proses membuat
catatan-catatan saat coaching ini harus akurat sesuai data, fakta yang saya
dengan, memberikan umpan balik dengan menunjukkan hal-hal baik/positif dari si
coach (Bu Nia) yang kebetulan memang
sudah bagus menurut saya. Jadi, intinya, supervisor itu tidaklah menakutkan. Paradigma
supervisor itu menakutkan harus kita buang jauh. Di sini saya belajar
memperbaiki diri merefleksi diri untuk tidak menemukan kekurangan orang lain,
tetapi belajar bahwa orang lain itu sesungguhnya memiliki kelebihan yang harus
dimunculkan dan diberitahukan ke yang bersangkutan.
Benang merah
yang dapat saya tarik adalah Modul 2.3 membelajarkan tentang Coaching dengan
memperhatikan paradigma dan prinsip coaching, yang disandingkan melalui
pendekatan RASA dan TIRTA. Pasti kendala akan terkendali. Hambatan akan
terselesaikan. Dari siapa? dari kita sendiri. Selain itu modul ini juga
membelajarkan praktik baik bagaimana menjadi pengamat (supervisor) untuk
supervisi akademik dengan teknik coaching. Hal baru yang membuat diri saya
paham bahwa supervisi itu bukan menghakimi, bukan mengorek kekurangan. Jika
supervisor mengerti ini pasti supervisi akan nikmat. Senikmat ketika saya sudah
menyeruput kopi dengan sedikit gula.
Pembelajaran coaching untuk supervisi akademik ini benar-benar pembelajaran bagaimana saya sebagai pendidik harus berusaha menggali potensi yang dimiliki murid, rekan sejawat, atau warga sekolah ketika mereka mengalami masalah, lalu berkeluh-kesah kepada kita. Dahulu ketika kita mendengarkan apa yang teman atau murid curhatkan atau sampaikan kepada kita, maka kita akan tergesa memberikan solusi yang kita anggap terbaik. Namun, ternyata menggali potensi yang dimiliki rekan atau murid itu sendiri jauh lebih solutif ketika mereka mampu menghadapi kendala tersebut dengan solusi yang mereka temukan sendiri dengan ide kreatif yang diberdayakan. Jangan memberi tetapi bongkarlah apa yang ada pada diri murid-murid kita, sebab mereka memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Murid-murid adalah pribadi-pribadi hebat yang dengan satu atau beberapa sentuhan maka akan terpancar kekuatan itu menjadi alternatif mereka sendiri.
Rekan
sejawat, mereka adalah penuntun yang hebat-hebat dengan kompetensi yang
dimiliki, saya pun meyakini bahwa setiap kendala yang dihadapi mereka
sesungguhnya mampu menyelesaikannya, hanya saja memang butuh teman untuk
menggalinya. Dengan pembelajaran coaching ini, insya Allah akan saya
implementasikan dalam praktik pembelajaran ketika menghadapi hambatan baik dari
murid, rekan sejawat, warga sekolah, atau lingkungan.
Lantas bagaimana keterkaitannya dengan pengalaman belajar dengan murid? Saya
mencoba terus menggali apa yang dimiliki murid saya ketika secara klasikal
dalam diskusi mereka menanyakan hal yang menjad kendala dalam memahami materi
yang diajarkan. Di sinilah saya mulai belajar menggali potensi murid dengan
memberikan pertanyaan berbobot terkait materi yang belum dipahami dengan
memberikan pertanyaan balik kepada murid-murid, lalu biasanya akan ada yang
mengusulkan bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu. Dari sinilah, saya
mencoba sesekali memancing kembali hingga murid memunculkan solusi jawaban atau
alternatif lain untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Hingga nanti mereka
akan bertanggung jawab dengan rencan aksi yang akan dilakukan dengan penuh
komitmen.
Tantangan terkait implementasi dengan konteks asal adalah hal unik dan
menarik. Budaya Jawa sering mempempengaruhi bagaimana saya mendekati, mencoba
membangun kemitraan dengan murid ataupun dengan rekan sejawat. Sementara saya
mengimplementasikan di sekolah yang notabene murid dan rekan saya beragam,
berbhineka. Terkadang saya sering keceplosan memanggil “Nduk” atau “Le” baik ke
murid atau rekan guru. Maksud saya membangun mitra agar lebih dekat, tetapi
terkadan murid saya yang asli penduduk Jambi, Pamenang, tidak pamah, dan hanya
tersenyum. Sesekali saya harus menjelaskan. Atau terkadang saya juga memberikan
kelakar Bahasa Jawa, yang membuat murid saya diam saja, padahal Bahasa yang
saya gunakan sangat lucu. Oleh karena mereka tidak paham, akhirnya saya dan
anak-anak Jawa saja yang tertawa, yang asli Jambi terdiam. Inilah yang masih
menjadi “latah”saya. Alternatif dari yang saya coba
adalah, meminta murid lain untuk mengartikan kata-kata (Jawa) yang saya
ucapkan. Secepatnya saya akan meminta maaf dan memberikan klarifikasi mengapa
saya terkadang menggunakan kata atau Bahasa Jawa agar mereka tidak salah arti.
Tantangan lain terkait dengan rekan sejawat adalah sama seperti ke murid
yaitu kebhinekaan tadi. Sekolah kami beragam suku. Maka memahami rekan dengan
hadir secara utuh saat mendengarkan keluh kesah (masalah pribadi). Saya pun
mencoba bertanya untuk menemukan apa kekuatan yang dimiliki rekan saya ini.
Meski ujungnya, rekan akan ngotot dengan solusi yang dia anggap baik (tidak
dapat diubah keputusannya) maka saya akan menanyakan siapkah dengan segala
konsekuensinya? Harapan saya dia akan benar-benar memikirkan solusi yang lebih
bijak. Lain rekan satu, lain pula rekan yang lain. Nah ini terjadi ketika kami
menjadi satu tim akreditasi, sebuah tantangan besar menghadang, ketika dua
rekan koordinator yang memegang mutu lulusan dan mutu proses pembelajaran tidak
dapat mendampingi bahkan terkesan melepaskan tanggung jawab yang diamanahkan.
Maka saya membicarakan dengan rekan sekretaris, mirip coaching. Sebab
sekretaris mengeluh dengan kelakuan dua rekan koordinator tadi. Dari solusi
yang ditawarkan rekan sekretaris (coachee) Alhamdulillah kendala tersebut
menyingkir alias terselesaikan. Intinya adalah teknik coaching dengan
kematangan dan kejernihan berpikir akan melahirkan jurus-jurus jitu yang diluar
dugaan.
Dahulu ketika murid atau rekan
berkeluh kesah menyampaikan masalah ke saya, maka respon saya berupa solusi
yang jika dipakai silahkan, tidak ya tidak masalah. Saya berpikir bahwa mereka
membutuhkan solusi dari saya. Saya cenderung mencari sisi lemah atau kurangnya murid
atau rekan. Tidak terpikir bahwa mereka memiliki potensi besar untuk mengatasi
masalah mereka sendiri. Untuk proses menyimaknya atau mendengar, sama, saya
akan mendengarkan aktif secara seksama. Saya belum memahami bahwa saya harus
menggali kekuatan apa yang dimiliki rekan atau murid saya. Saya cenderung
langsung memberikan solusi. Padahal ini tidak dibenarkan. Paradigma dan prinsip
Coaching dengan RASA dan TIRTA membuka wawasan dan cara berpikir positif saya
ke murid dan rekan, atau bahkan orang lain di sekitar saya. Coaching membuat
saya malu ketika berefleksi ke belakang, betapa saya ini apa, betapa saya
adalah seseorang yang merasa “ini lho saya” astagfirullahaladzim. Semoga murid
saya dan rekan atau orang-orang di sekitar saya memaafkan kealfaan saya.
Tak ada yang akan saya sia-kan setelah belajar di CGP ini apalagi belajar dari Modul 2.3 ini. Menghargai murid, rekan, dan orang lain dengan banyak potensi mereka, adalah langkah yang harus selekasnya saya aktualisasikan baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal saya. Insya Allah setelah memahami modul ini dari awal, praktik itu mulai berjalan meskipun lamban sebab hambatan itu sesekali saja menghadang. Praktik baik yang saya lakukan di Modul 2.2 Pembelajaran untuk Memenihu Kebutuhan Murid adalah memahami profil belajar murid dengan deferensiasi produk, maka murid-murid saya benar-benar membuat produk/tugas sesuai dengan keinginan mereka. Ada yang membuat voice note, laporan canva, upload tulisan di instagram, membuat video https://youtu.be/SKWODeF4DQ0
Praktik baik modul 2.1. Pembelajaran
Sosial-Emosional, mindfulness (https://youtu.be/UhcOpWwkh8U)
mereka murid-murid saya yang butuh kesiapan dalam belajar. Sebab kala itu secara
tidak terduga terjadi pertengkaran di luar kelas (kelas lain, bukan kelas yang
saya ajar, siang itu) dan mereka sempat melihatnya. Lalu saya mencoba melerai,
setelahnya saya kembali ke kelas, tetapi saya mencoba memusatkan perhatian
murid-murid dengan mindfulness terlebih dahulu agar mereka terfokus ke
pembelajaran bukan ke pertengkaran. Dan akhirnya mereka siap belajar.
Membaca resensi dari Buku “Leader as a Coach - Prinsip Dasar Kepemimpinan Efektif di Era Disruptif” By Rudy Efendy pada laman https://pimtar.id/books/leader-as-a-coach/8705f29281c65969970420820?page=4 membuat saya menggaris-bawahi dan menambah keyakinan dan wawasan saya bahwa Coaching membantu coachee untuk memunculkan potensi terbaik mereka dengan cara menyingkirkan hal-hal yang mengganggu seperti mental block, kurang percaya diri dan masalah psikologis lainnya. Coaching tidak hanya sebatas urusan profesional atau pekerjaan, melainkan juga urusan personal karena bisa jadi masalah personal-lah yang menghambat kinerja dan potensi mereka. (Diakses, 10 Oktober 2022). Kutipan yang saya cetak tebal akan menjadikan hal penting yang harus saya jadikan indikator mengapa coaching itu penting. Bagaimana membangun pertanyaan yang berbobot ternyata link di atas memberikan beberapa pencerahan. Yaitu dengan bottom lining (mempertegas topik/agenda), acknowledging (menyampaikan apa adanya), interrupting (menginterupsi), challenging (menantang), requesting ( meminta melakukan sesuatu), articulating (menyuarakan isi pikiran dengan jelas), reframing (membantu coachee melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda), dan methapor (menggambarkan situasi).
Akhirnya saya sedikit tambah mengerti bagaimana membuat pertanyaan berbobot itu. Simpulan akhir adalah bahwa seorang pendidik harus memiliki kemampuan leadership pada murid rekan sejawat, lingkungan. Tidak mesti hanya di perusahaan saja seorang leadership itu ada.
Teks Editorial Teks editorial adalah teks yang ditulis oleh redaksi media dan merupakan pandangan dan sikap resmi suatu media terhadap ...