Rabu, 03 Juli 2024

Teks Editorial

Teks Editorial 



Teks editorial adalah teks yang ditulis oleh redaksi media dan merupakan pandangan dan sikap resmi suatu media terhadap peristiwa yang aktualfenomenal, dan kontroversial. Teks editorial juga dikenal sebagai tajuk rencana.

Teks editorial biasanya terdapat pada rubrik Opini. Rubrik ini berisi editorial dan surat dari pembaca. Jadi, editorial dan surat pembaca adalah dua hal yang berbeda ya. Editorial dibuat oleh jajaran redaksi media massa, sedangkan surat pembaca merupakan tulisan yang dikirim oleh masyarakat biasa.

Fungsi dari teks editorial adalah untuk menanggapi suatu isu yang sedang beredar, memberikan saran, dan melatih pembaca supaya berpikir kritis. Isu yang dibahas bisa berupa masalah ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, sosial budaya, olahraga, dan lain sebagainya.

Struktur Teks Editorial:
  • Pengenalan Isu

    Pengenalan isu (tesis) adalah bagian pendahuluan dari teks editorial. Di sini, pihak redaksi mengenalkan masalah yang akan dibahas. Masalah atau peristiwa tersebut bersifat aktual, kontroversial, dan fenomenal. Pokoknya, berita yang lagi hangat-hangatnya dibahas

  • Penyampaian Pendapat atau Argumentasi

    Struktur yang kedua yaitu penyampaian pendapat atau argumentasi. Di dalamnya, berisi fakta-fakta yang berasal dari hasil penelitian. pernyataan para ahli, maupun referensi yang dapat dipercaya. 

    Kemudian, penulis akan mengomentari fakta berdasarkan sudut pandangnya, sehingga tampak berpihak sesuai dengan isi teks editorial. Tujuan argumentasi untuk mempengaruhi serta meyakinkan pembaca

  • Penegasan Ulang

    Bagian terakhir teks editorial adalah penegasan ulang, yang berisi kesimpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut.


Contoh: 




Referensi:


Minggu, 15 Oktober 2023







Kalian dalam Sebuah Episode

Karya: Dewicalli


Menatap pada jiwa yang masih mempupuk tanya
Kuurai benang kusut yang semerawut
Dengan sedikit Kacau
Pada kodrat yang tertera dari pembawaan pada
Laku di kala sesiang
Lalu kugiring dengan tali rasa
Menempa dengan kaca pada sang
Pamongnya
Berpagut gayut tanpa menukil luka
Pada angin kita bersenda dalam meniti penuh
Kebebasan
Tanpa memenjarakan di kotak tak
Bertuan
Anakku yang masih
Kelabu
Bersukalah dalam karyamu
Bermanjalah dengan alam dan abadmu
Berpaut pada arus yang sengaja kugiring
Kuiiring dalam sebuah perjanjian
Anakku yang mulai mengikis kelabu
Berontaklah berlarilah bersamaku
Merajut dalam menata laku dan
Pekertimu
Jangan kau kurung suaramu kala kita berpesta dibincang
Penghantar
Di tengah hari
Jangan kau lipat 
Tanganmu saat kita memilin lidi menjadi
Bilah sapu Anakku
Jangan kau pasung ragamu
Pada kamar kayu seperti kala
Dulu
Kini kita mainkan nada-
Nada ilmu pada
laras-laras lagu Anakku
Senandungmu pertanda bahagiamu
Ada 
bersamaku










Rabu, 15 Februari 2023

Kritik Sastra XII


Kritik dan Esai Sastra

Kritik dan esai adalah dua jenis tulisan yang hampir sama. Keduanya sama-sama mengungkapkan pendapat atau argumen. Namun, penulis kritik dan esai haruslah melakukan analisis dan penilaian secara objektif terlebih dahulu agar dapat dipercaya. Kritik yang fokusnya adalah menilai karya, esai lebih mengarah pada ’cara pandang’ seseorang terhadap suatu objek atau peristiwa; tidak selalu terhadap karya. 

Membandingkan Kritik dan Esai

Pengertian kritik Kritik merupakan penilaian terhadap suatu karya secara seimbang, baik kelemahan maupun kelebihannya. Karya yang dikritik biasanya berupa karya seni, baik karya sastra, musik, lukis, buku, maupun film. Fokus dari kritik adalah menilai karya. 

Kritik

Kritik adalah Suatu ungkapan atau tanggapan mengenai baik atau buruknya suatu tindakan yang akan atau sudah dibuat. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1997 : 531 ), disebutkan kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap sesuatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Selain itu, menurut Sutopo (2011) kritik merupakan analisis secara langsung dengan mempertimbangkan baik buruknya suatu karya, penerangan, dan penghakiman karya. Kritik meliputi tiga bidang, yaitu teori dan sejarah. 
Esai merupakan karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dari sudut pandang pribadi penulisnya. Fokus dari esai mengarah pada cara pandang seseorang terhadap suatu objek atau peristiwa. 

Perbandingan Kritik dan Esai Berdasarkan Pengetahuan yang Disajikan


Struktur Kritik 

  • Evaluasi: berisi pernyataan umum mengenai suatu yang akan disampaikan. 
  • Deskripsi Teks: bagian isi teks tanggapan kritis, memuat informasi tentang data-data dan pendapat-pendapat yang mendukung pernyataan atau melemahkan pernyataan. 
  • Penegasan Ulang: bagian terakhir teks, berisi penegasan ulang mengenai suatu yang sudah dilakukan atau diputuskan. 

Kaidah Kritik 

  • Kalimat kompleks: kalimat yang memiliki lebih dari 2 struktur dan 2 verba. 
  • Konjungsi: kata penghubung yang menghubungkan setiap kata dan struktur. 
  • Kata Rujukan: sesuatu yang digunakan oleh penulis untuk memperkuat pernyataan dengan tegas. Dikenal juga dengan sebutan referensi. 
  • Pilihan Kata: pemilihan kata yang sesuai dalam penggunaan sekaligus pembuatan teks tanggapan kritis.

Ciri-ciri Kritik 

  • Bersifat menanggapi atau mengomentari karya orang lain 
  • Menunjukkan kelebihan dan kekurangan 
  • Memberi saran perbaikan 
  • Bertujuan menjembatani pemahaman pembaca

Jenis-jenis Kritik 

Berdasarkan Penerapannya kritik dibedakan atas:
  • Kritik induktif adalah kritik dengan memperhatikan unsur-unsur yang ada di dalam karya.
  • Kritik judisial adalah kritik kritik yang menganalisis dan menerangkan efek-efek karya berdasarkan permasalahannya, oraganisasinya, teknik, serta gaya kepenulisannya. Kritik ini atas dasar standar umum tentang kehebatan dan kebiasaan. 
  • Kritik Impresionik adalah kritik yang berusaha menggambarkan sifat khusus dalam sebuah karya serta mengekspresikan tanggapan kritikus yang ditimbulkan secara langsung oleh karya tersebut.

Jenis-jenis Kritik Berdasarkan Cara Kerja Kritikus 

  • Kritik impresionistik adalah kritik yang berupa kesan-kesan pribadi secara subjektif terhadap sebuah karya, di sini selera pribadi amat berperan. Padahal selera pribadi itu berubah-ubah setiap saat sesuai dengan perkembangan kepribadian orang itu. 
  • Kritik penghakiman adalah kritik yang bekerja secara deduksi dengan berpegang teguh pada ukuran-ukuran tertentu, untuk menetapkan apakah sebuah karya itu baik atau tidak. 
  • Kritik teknis adalah kritik yang bertujuan menunjukan kelemahan-kelemahan tertentu dari sebuah karya agar pengarangnya dapat memperbaiki kesalahankesalahan dikemudian hari.

Prinsip-prinsip Penulisan Kritik 

  • penulis harus secara terbuka mengemukakan dari sisi mana ia menilai karya sastra tersebut 
  • penulis harus objektif dalam menilai 
  • penulis harus menyertakan bukti dari teks yang dikritiknya 
  • Penulis kritik (kritikus) harus benar-benar membaca atau mengamati karya yang akan dikritik. 
  • Kritikus harus membekali diri dengan pengetahuan tentang karya yang akan dikritisi. 
  • Kritikus harus mengumpulkan data-data penunjang dan alasan logis untuk mendukung penilaian yang diberikan. 
  • Kritik yang disampaikan tidak hanya mengungkap kelemahan, tetapi harus seimbang dengan kelebihannya. 
  • Jika diperlukan, kritikus menggunakan kajian teori yang relevan untuk mendukung penilaiannya. 
Cara Penulisan Kritik yang Baik dan Benar
  • Menentukan tema atau topik yang akan ditulis atau dikritik 
  • Mengumpulkan bahan-bahan referensi pendukung 
  • Mengidentifikasi unsur-unsur yang mendukung dan kontra 
  • Memilih unsur-unsur yang dapat mendukung tema 
  • Memulai untuk menulis kritik 
  • Membaca dan melakukan pengeditan ulang untuk revisi 
  • Mengirimkan ke media massa cetak

Contoh Kritik Sastra

Mimpi Anak Belitung pada Novel Sang Pemimpi

Sebuah Kritik Sastra

 

Mimpi adalah bagian kehidupan. Tanpa mimpi kita akan kurang bersemangat untuk menjalani kehidupan. Novel Sang Pemimpi adalah sebuah novel kedua karya Andrea Hirata yang merupakan bagian tetralogi Laskar Pelangi.

Sang Pemimpi adalah judul yang tepat untuk novel ini karena memang kisah yang disajikan membuat pembaca yakin akan kekuatan mimpi. Tentunya, dengan cinta, pengorbanan, dan rahmat Tuhan, kita akan dapat mewujudkan mimpi yang kita miliki.

Tiga tokohnya, Arai, Ikal, dan Jimbron, yang digambarkan sebagai pemimpi telah menamatkan SMP dan akan melanjutkan ke SMA. Dari sinilah perjuangan dan mimpi mereka dimulai.

Tidak tanggung-tanggung, Arai dan Ikal bermimpi untuk kuliah ke Perancis, sedangkan Jimbron memutuskan untuk menetap di Belitung. Demi impian tersebut, apapun mereka lakukan.

Impian Arai dan Ikal untuk kuliah di Prancis terwujud, Namun, ini barulah awal perjuangan yang sesungguhnya.

Kekuatan novel ini terdapat dalam nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pembaca diajarkan agar menjadi orang yang senantiasa bersyukur. Walaupun di tengah kekurangan, jangan mengeluh dan selalu berusaha serta berdoa. Selain itu, dengan kekuatan mimpi, jangan pernah menyerah dan larut dalam kesedihan. Selain itu, penulis mengajarkan tentang nilai-nilai untuk patuh pada perkataan orang tua.

Dalam novel Sang Pemimpi, juga terdapat kekurangan yang dapat menjadi masukan bagi penulis. Pembaca dapat mengalami kesulitan dalam memahami bahasa yang digunakan karena ada penggunaan bahasa daerah dan bahasa Inggris yang tidak dijelaskan di glosarium. Sebaiknya penulis melengkapi kosakata berbahasa daerah dan asing pada glosarium sehingga pembaca tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut. Hal yang digambarkan lewat kata-kata dari kutipan. “Lalu kami beralih menjadi part time office boy di kompleks kantor pemerintah. (hal. 69). 

(https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-ciri-struktur-kritik-sastra-dan-esai)

Esai

Pengertian Esai Esai adalah Suatu tulisan yang menggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu yang coba dinilainya. Bentuk karangan esai dapat berupa formal atau informal. Esai sering juga disebut dengan artikel, tulisan atau komposisi. Secara umum, esai didefinisikan sebagai sebuah karangan singkat yang berisi pendapat atau argumen penulis tentang suatu topik.

Struktur Esai:

  • Pendahuluan: struktur awal pembangun kerangka dari esai. Pendahuluan biasanya akan mengungkapkan secara sekilas topik atau tema yang akan diangkat pada keseluruhan esai. 
  • Bagian isi: Bagian ini merupakan bagian inti dari struktur pembangun esai. Pada bagian ini, topik atau tema yang telah dipilih sebelumnya akan dibahas dan dijelaskan secara lebih rinci dan mendetail 
  • Penutup atau Kesimpulan: Seperti namanya, bagian penutup merupakan bagian terakhir dalam menyusun sebuah esai.

Kaidah Esai 

  • Baku Struktur yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata/istilah, dan penulisan sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) 
  • Logis Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal 
  • Ringkas Ide dan gagasan diungkapkan dengan kalimat pendek sesuai dengan kebutuhan, pemakaian kata seperlunya, tidak berlebihan, tetapi isinya bernas 
  • Runtun Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya baik dalam kalimat maupun dalam paragraf 
  • Denotatif Kata yang diungkapkan dengan kalimat pendek sesuai dengan kebutuhan, pemakaian kata seperlunya, tidak berlebihan, tetapi isinya bernas. 

    Tipe-tipe Esai 

  • Esai deskriptif. Esai jenis ini dapat meluliskan subjek atau objek apa saja yang dapat menarik perhatian pengarang. Ia bisa mendeskripsikan sebuah rumah, sepatu, tempat rekreasi dan sebagainya. 
  • Esai tajuk. Esai jenis ini dapat dilihat dalam surat kabar dan majalah. Esai ini mempunyai satu fungsi khusus, yaitu menggambarkan pandangan dan sikap surat kabar/majalah tersebut terhadap satu topik dan isyu dalam masyarakat. Dengan Esai tajuk, surat kabar tersebut membentuk opini pembaca. Tajuk surat kabar tidak perlu disertai dengan nama penulis. 
  • Esai cukilan watak. Esai ini memperbolehkan seorang penulis membeberkan beberapa segi dari kehidupan individual seseorang kepada para pembaca. Lewat cukilan watak itu pembaca dapat mengetahui sikap penulis terhadap tipe pribadi yang dibeberkan. Disini penulis tidak menuliskan biografi. Ia hanya memilih bagianbagian yang utama dari kehidupan dan watak pribadi tersebut. 
  • Esai pribadi, hampir sama dengan esai cukilan watak. Akan tetapi esai pribadi ditulis sendiri oleh pribadi tersebut tentang dirinya sendiri. Penulis akan menyatakan “Saya adalah saya. Saya akan menceritakan kepada saudara hidup saya dan pandangan saya tentang hidup”. Ia membuka tabir tentang dirinya sendiri.
  • Esai reflektif. Esai reflektif ditulis secara formal dengan nada serius. Penulis mengungkapkan dengan dalam, sungguh-sungguh, dan hati-hati beberapa topik yang penting berhubungan dengan hidup, misalnya kematian, politik, pendidikan, dan hakikat manusiawi. Esai ini ditujukan kepada para cendekiawan. 
  • Esai kritik. Dalam esai kritik penulis memusatkan diri pada uraian tentang seni, misalnya, lukisan, tarian, pahat, patung, teater, kesusasteraan. Esai kritik bisa ditulis tentang seni tradisional, pekerjaan seorang seniman pada masa lampau, tentang seni kontemporer. Esai ini membangkitkan kesadaran pembaca tentang pikiran dan perasaan penulis tentang karya seni. Kritik yang menyangkut karya sastra disebut kritik sastra.

Ciri-ciri Esai 

  • Berbentuk prosa, artinya dalam bentuk komunikasi biasa, menghindarkan penggunaan bahasa dan ungkapan figur. 
  • Singkat, maksudnya dapat dibaca dengan santai dalam waktu dua jam. 
  • Memiliki gaya pembeda. Seorang penulis esai yang baik akan membawa ciri dan gaya yang khas, yang membedakan tulisannya dengan gaya penulis lain.
  • Selalu tidak utuh, artinya penulis memilih segi-segi yang penting dan menarik dari objek dan subjek yang hendak ditulis, 
  • Memenuhi keutuhan penulisan. Walaupun esai adalah tulisan yang tidak utuh, namun harus memiliki kesatuan, dan memenuhi syarat-syarat penulisan, mulai dari pendahuluan, pengembangan sampai ke pengakhiran. 
  • Mempunyai nada pribadi atau bersifat individu, yang membedakan esai dengan jenis karya sastra adalah ciri personal. Ciri personal dalam penulisan esai adalah pengungkapan penulis sendiri tentang pandangannya, sikapnya, pikirannya, dan kepada pembaca.

Langkah-langkah membuat Esai 

  • Menentukan tema yang menarik. 
  • Melakukan research ( Penelitian ) pengumpulan bahan 
  • Membuat outline ( garis besar) 
  • Memberikan judul dalam esai tersebut 
  • Memulai untuk menulis esai 
  • Memperhatikan pemilihan kata 

Contoh Esai

CANDU. Sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keterikatan masyarakat kita pada media sosial. Semua kalangan seakan “terjerat” dalam rutinitas yang sama setiap harinya. Terlebih lagi kaum remaja. Remaja larut dalam aktivitas yang satu ini hampir sepanjang hari. Tentunya ada keasikan tersendiri sehingga remaja betah berlama-lama dalam menggunakannya. Salah satunya, sebagai wadah menuangkan berekspresinya.

Penggunaan media sosial di kalangan remaja akan memberikan dampak bagi penggunanya. Remaja yang tentunya masih dalam usia belajar, sering terganggu waktu belajarnya. Ditambah lagi, sebaran informasi melalui media sosial dapat membentuk opini di kalangan remaja. Misalnya tentang standar kecantikan di kalangan remaja perempuan. Hal lainnya yang sangat berbahaya dari media sosial adalah pornografi dan kejahatan melalui internet.

Walaupun demikian, kita tidak menampik bahwa media sosial pun memiliki dampak positif, di antaranya untuk menjaga silaturahmi dengan keluarga ataupun saudara yang jauh jarak tempat tinggalnya, mendapatkan ilmu pengetahuan baru, sebagai sumber penyebaran informasi, memperluas jaringan pertemanan, dan sebagai media media promosi bisnis.

Penggunaan teknologi modern tentunya tidak lepas dari pengaruh positif dan negatif. Tentu saja hal ini bergantung dari penggunanya, Remaja diharapkan dapat membatasi diri sendiri serta kontrol dari orang tua sangat diperlukan. https://www.ruangguru.com/blog/pengertian-ciri-struktur-kritik-sastra-dan-esai


Referensi:
Handiyani, Seni, dkk. 2016. Buku Siswa Bahasa dan Sastra Indonesia Sarana Interaksi dan Berekspresi            untuk SMA/ MA Kelas X Peminatan Ilmu-Ilmu Bahasa dan Budaya. Jakarta: Grafindo Media Pratama. Kosasih, Engkos. 2017. Cerdas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas X             kelompok Peminatan Bahasa dan Budaya. Jakarta: Erlangga

Kamis, 02 Februari 2023


1740 itu kapan ya? "Jaman ipong" itu kata Embah artinya jaman duluuuuu sekaliiiii karena kita ga akan pernah nyium baunya. Apalagi menerka berapa harikah meniti ke sononya.
Mau tau Kaili cantiknya kaya Apa? Keizer itu ala-ala K-POP_kah?
Gimana pergolakan. Perebutan kekuasaan.
Intip ke https://kbm.id/ terus sematkan nick @dewicalli. Gratis kok,, 😍 sebab masih sekelumit saja. 😍😍

Selasa, 01 November 2022

 Teks Eksposisi




Eksposisi secara etimologi berasal dari bahasa latin exposition yang artinya membuka atau memulai. Teks eksposisi digunakan untuk menyampaikan pendapat mengenai suatu permasalahan dengan hi i am the legend pengetahuan dan wawasan pembaca (https://id.wikipedia.org/wiki/Eksposisi)


Teks eksposisi sebenarnya adalah jenis teks nonfiksi yang berisi tentang penjelasan dari suatu informasi atau pengetahuan. Teks eksposisi sendiri ditulis berdasarkan data yang diperoleh berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi. Selain itu, teks ini menyajikan informasi dengan padat, jelas, singkat, dan tentunya akurat. Informasi yang disajikan juga harus sesuai dengan 5W + 1H atau lebih dikenal ADIK SIMBA, mulai dari apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, hingga bagaimana (https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-teks-eksposisi/)

Jadi Pengertian dari teks eksposisi adalah sebuah tulisan yang menjelaskan atau menguraikan suatu ide, pokok pikiran, pendapat, informasi, maupun pengetahuan pembaca tanpa bermaksud memengaruhi. Tujuannya untuk memerluas pengetahuan pembaca.


Struktur

  • Tesis (thesis) adalah pembuka karangan yang berisi sudut pandang penulis terhadap topik bahasan. Tesis ini berisi teori yang dibahas atau sebuah hasil analisis yang nantinya akan diperkuat argumen.
  • Argumentasi (argument) adalah alasan yang diperkuat dengan bukti-bukti kuat dalam rangka memperkuat argumentasi yang berbentuk pendapat para ahli, hasil penelitian, atau pernyataan yang berdasar referensi yang kredibel.
  • Penegasan ulang (resteatment of thesis) adalah bagian akhir yang menjadi simpulan paragraf serta menegaskan kembali tesis dan argumentasi (https://id.wikipedia.org/wiki/Eksposisi)



Perbedaan Eksposisi dengan Teks Lain (Argumentasi)
Eksposisi:
  • bertujuan menerangkan atau menjelaskan sehingga pembaca mendapatkan informasi secara jelas. 
  • contoh, grafik, bukti digunakan untuk menjelaskan suatu hal yang sedang dibahas
  • penutup berupa penegasan kembali atas pemaparan yang telah diuraikan.


Argumentasi:

  • bertujuan memengaruhi pembaca supaya setuju dengan pendapat, keyakinan, atau sikap dari penulis.
  • contoh, grafik, data digunakan sebagai bukti
  • penutup berupa kesimpulan atas sesuatu yang telah dipaparkan atau diuraikan






Selasa, 25 Oktober 2022

 

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Universal sebagai Pemimpin
Kunti Dewi Hambawani, CGP Kab. Merangin

 

Fasilitator                : Bp. Trireko Hernando, S.Pd. M.Pd
Pengajar Praktik    : Bp. Dede Rudiana, S.Pd.


 



“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

 

  • Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

Menurut saya mengenai padangan Bob Talbert di atas, adalah membelajarkan anak tentang ilmu pengetahuan adalah baik, benar menjadikan anak menjadi lebih mampu, lebih pintar dalam hal ilmu (pengetahuan). Namun sesungguhnya, mengajarkan murid kita tentang apa yang jauh lebih berharga lebih utama adalah yang terbaik, yaitu bagaimana laku mereka ketika menyelesaikan masalah baik dalam mengambil keputusan terbaik dari situasi yang dihadapi saat itu. Memutuskan sesuatu tidaklah mudh sebab keputusan itu adalah sesuatu yang berharga, maka dalam memutuskannya pun tidak boleh gegabah. Butuh pertimbangan apakah terpusat pada murid, dapat dipertanggung jawabkan, dan berlandaskan nilai kebajikan universal.

 

  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita apabila dalam kenyataannya kita dapat mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, terimplementasikannya  nilai atau prinsip dalam pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada sesama, kepada lingkungan, dan kepada Allah Ta’ala. Hal tersebut dapat terlihat dari tercerminnya budaya positif dalam pengambilan keputusan misalnya, pemilu raya OSIS. Rembuk Pagelaran seni, Rapat Pelaksanan Kegiatan sekolah (Haornas, Hari pahlawan, 17 Agustus-an, dan lain-lain). Yang pasti dapat dilihat adalah adanya perubahan positif yang terjadi dilingkungan sekolah.

 

  • Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Pengambilan keputusan itu akan terimplementasi ketika saya dalam proses pembelajaran mampu memenuhi kebutuhan murid (kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid) secara tepat (pembelajaran berdeferensiasi). Memutuskan apakah akan dilaksanakan pembelajaran atau mundur waktunya itu penting. Saya harus memastikan murid saya siap, jika belum siap maka saya harus mengambil keputusan bagaimana agar murid saya siap belajar. Murid kita beragam, artinya mereka pasti memiliki minat dan profil belajar berbeda, maka pembelajaran tidak boleh saya memutuskan satu strategi. Pertimbangan dalam memutuskan pendekatan pembelajaran agar pelayanan tetap fokus berpusat pada murid saya juga harus diperhatikan.

 

  • Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.


 Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

 

Menurut saya maksud kutipan tersebut adalah proses menuntun murid merupakan sebuah karya mencipta, menebalkan laku murid agar mampu menguasai diri  dalam bertindak sesuai kewajiban moral dan nilai-nilai kebajikan universal. Bagaimana melakukannya? Adalah dengan pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang berdasarkan nilai kebajikan universal sehingga dapat dipertanggung jawabkan.

 

 

 

Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin





 

  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

a.    Ing Ngarso Sung Tulodho, makna tersirat dari pratap ini adalah menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan, patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain perbuatan-kelakuan-sifat dan lain-lainnya. Artinya sebagai pemimpin pembelajaran, pendidik mampu memberikan contoh keteladan dalam memutuskan bagaimana segala sesuatu itu harus diambil secara bijak sesuai nilai kebajikan universal.

b.    Ing Madyo Mangun Karso, memberdayakan, menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal, cara, dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri murid kita. Artinya menggugah semangat untuk mampu mengambil keputusan yang tepat, dapat dipertanggungjawabkan dan berlandaskan nilai kebajikan universal, meski dalam keadaan banyak aktivitas.

c.    Tut Wuri Handayani, penuntun yang baik harus mempengaruhi, memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif lain agar orang lain bertumbuh dan maju. Dengan dorongan semangat yang kuat maka insya Allah sebuah keputusan akan membawa manfaat besar bagi murid.

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? 
    N
    ilai merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan membantu mereka mengambil posisi ketika berhadapan dengan situasi atau masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dengan prinsip pengambilan berdasarkan nilai tersebut, pemimpin pembelajaran dituntut untuk mengambil keputusan yaitu “perubahan”. Memutuskan dalam mengapresiasi dan memanfaatkan asset dan sumber daya yang dimiliki. Memutuskan untuk menciptakan suasana belajar yang positif dan berkualitas bagi murid. Simpulannya karsa merupakan suatu kekuatan yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, yang kesemuanya akan berpegang pada nilai kebajikan universal

  • Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
    Sebagai coach bagi kita peran fasilitator dalam proses pembelajaran sangat berdampak besar bagi saya khususnya, umumnya bagi CGP lainnya. Dampak itu terlihat ketika kita (CGP) ketika bagaimana harus mengambil pembelajaran, memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk mengakses keterampilan metakognitifnya ketika melihat dan mengevaluasi proses berpikir kita sendiri terkait belajar, pencapaian tujuan, dan pemecahan masalah. Disinilah keterampilan pengambilan yang telah dibelajarkan oleh fasilitator akan kelihatan. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul untuk menggali ide-ide yang sangat luar biasa, sehingga dalam pengambilan keputusan tidak akan gamang atau ragu, namun yakin dapat dipertanggung jawabkan, berpusat pada murid, dan sesuai nilai kebajikan universal. Tentunya semua dilakukan dengan pendekatan TIRTA berpedoman pada paradigm dan prinsip coaching akan mampu menggali segala potensi.

  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
    kemampuan sosial emosional sangat terkait erat dalam pengambilan keputusan. Kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Untuk pengambilan keputusan khususnya masalah dilema etika maka butuh kesadaran penuh (mindfulness) menjadi dasar bagi membuat rancangan yang akan membawa kebaikan, pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nilai moral dan etika, memikirkan konsekuensi, memiliki rasa bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat apapun hasilnya.

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
    Kasus yang berfokus pada masalah moral dan etika akan bermuara kembali ke nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Dilemma etika, benar lawan benar ataupun bujukan moral, benar lawan salah. Seorang pendidik harus memegang teguh prinsip dan nilai yang sudah menjadi pedomannya. Apapun nilai yang didigunakan sebagai landasan pada dasarnya akan memiliki konsesuensi yang mengikutinya. Namun, semuanya tetap kembali bahwa pengambilan keputusan harus didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan, dan berpihak pada murid

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
    Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
    Ini sangat benar. Sebuah keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan positif yang tercermin dari penerapan disiplin menjadi budaya positif. Suasana kondusif saling mendukung antar seluruh elemen sekolah. Murid akan merasa aman nyaman sehingga proses menuntun dapat terlaksana menuju tujuan yang diinginkan yaitu murid selamat bahagia setinggi-tingginya. Lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan, belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran ini pun tercermin dalam pengambilan keputusan dalam kesepakatan keyakinan kelas.

  • Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
    Ada. Terkadang kita dihadapkan rasa tidak enak hati, atau “welas asih” alias tidak tega, tidak adil. Benar lawan salah, dan sebagainya. Maka kembalikan ke titik awal, sudahkah berpihak pada murid? Setelah itu bagaimana dampaknya ketika diuji dengan paradigm jangka pendek lawan jangka panjang, apakah akan memberikan berkah atau sebaliknya? Ini juga patut dipertimbangkan. Tantangan berikutnya yang tampak adalah pendidik dan murid itu beragam suku adat dan budaya. Menyatukannya untuk menjadi homogen sangat tidak bisa, maka menjaga keheterongenan ini yang terkadang menjadi dilema. Di depan kita baik, di belakang kita terkadang menghujam. Namun, yakinlah bahwa yang baik dan benar tidak akan kalah dengan yang tidak baik dan tidak benar. Tantangan berikutnya adalah jika terkendala dengan kegagalan dalam menjalankan keyakinan yang telah disepakati, artiya motivasi diri belum terpatri kuat, masih goyah. Memang ini membutuhkan suatu pembudayaan, perlahan, dan penuh kesabaran. Tantangan berikutnya faktor eksternal, di mana kebijakan yang ditetapkan sekolah terkadang masih dicari sisi lemahnya oleh segelintir oknum yang mengaku LSM dengan dalih penyalur aspirasi orang tua.

  • Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
    Ada. Dimanapun tempatnya dilema etika akan selalu menaungi. Tergantung kita dapat menyikapinya secara bijak sesuai nilai kebajikan atau tidak. Sebagai contoh, ketika berposisi menjadi individu dari sebuah warga dimana dihadapkan pada dilemma harus mengikuti kegiatan lingkungan sementara di sisi lain kewajiban tugas juga menunggu. Maka sinilah bentuk pengertian warga lain untuk mengerti posisi dan peran kita sebagai pendidik. Namun, terkadang warga lain belum memahami hal yang demikian. Mereka menyama ratakan. Disinilah pengambilan keputusan secara bijak oleh pemangku kepentingan diperlukan.

  • Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
    Pengaruhnya adalah murid diberikan kebebasan belajar sesuai 3 kebutuhan dasar mereka sebagai individu pembelajar. Memperhatikan 3 kebutuhan dasar murid dalam proses pembelajaran adalah memberikan kebebasan mereka dalam mengeksplor minat, bakat, kesiapan belajar, profil belajar sehingga mereka akan belajar secara alami dan efisien sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Penuntun tidak cenderung mengatur dan menentukan. Biarkan murid berkembang sesuai keinginan mereka, penuntun hanya mengarahkan dan memberi jalan, tidak berhak menentukan harus lewat jalur apa, jalur mana.

    Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? Dengan pembelajaran berdeferensiasi. Murid kita unik, beragam, kemudian memiliki kodrat alam dan kodrat zaman yang berbeda. Mereka bertumbuh, maka sebagai penuntun giringlah mereka agar bertumbuh di lahan yang tepat. Maka pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan murid adalah yang tepat dan bagaimana penuntun merespon terhadap kebutuhan tersebut. Untuk mewujudkannya penuntun harus memperhatikan bagaimana pembelajaran itu memiliki tujuan, merespon kebutuhan murid, menciptakan lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, memanajemen kelas yang efektif, penilain berkelanjutan. Pembelajaran berdeferensiasi dengan pendekatan konten (masukan-apa yang dipelajari murid), proses (bagaimana murid memahami ide), dan produk (hasil apa yang telah murid pelajari
  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
    Sangat berpengaruh, artinya ketika pemimpin pembelajaran mengambil keputusan terhadap darus dituntun seperti apa muridnya, harus bagaimana mengerahkan jalurnya, harus menuntun lakunya agar tidak terpeleset maka disinilah letah pengaruh itu muncul. Proses menuntun yang keliru akan memberikan dampak besar pun sebaliknya jika proses ngemong dan nuntun itu benar-benar berlandaskan nilai kebajikan dan berpusat pada mereka insya Allah, masa depan muridnya akan selamat dan bahagia baik sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Simpulan yang dapat ditarik adalah proses pembelajaran menuntun murid tidak terlepas dari filosofi Ki Hajar Dewantara denga Pratap Trilokanya. Pembelajaranpun harus dikaitkan sengan nilai dan peran guru  sebagai penuntun. Memaksimalkan kompetensi social emosional dalam membelajarkan murid dengan kesadaran penuh. Membelajarkan sesuai dengan kebutuhan mereka yang unik dan beragam. Dengan meperhatikan kebutuhan tersebut melalui pembelajaran deferensiasi dan proses pembelajaran dengan coaching tepat maka insya Allah pengambilan keputusan harus menuntun seperti apa, harus bagaimana akan dapat terlaksana secara kolaboratif dan menghasilkan keputusan yang berpusat pada murid, dapat dipertanggung jawabkan, dan berlandaskan Nilai-nilai kebajikan universal.

  • Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
    dilemma etika adalah masalah-maslah yang timbul dimana kebenaran lawan kebenaran. Bujukan moral adalah masalah yang harus diputuskan benar atau salah. 4 paradigma pengambilan keputusan meliputi individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Kemudian 3 prinsip pengambilan keputusan terdiri atas berbikir berbasis hasil akhir, berbikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Sementara 9 langkah pengambilan keputusan ini antara lain (1) Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, (2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. (3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. (4) Pengujian benar atau salah (5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. (6) Melakukan Prinsip Resolusi (7). Investigasi Opsi Trilema (8) Buat Keputusan (9) Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan. Adakah hal di luar dugaan adalah, keputusan tidak dijalankan maksimal, akhirnya hasilnya pun tidak maksimal (perlu diantisipasi)

    Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema?
    Pernah. Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
    Ketika menjadi ketua panitia dan harus menyetujui anggaran untuk biaya transport “…” lalu dimintai persetujuan untuk megniyakan keputusan sepihak. Saya tahu ini salah, tetapi saya meng”iyakan”. Sebab alasannya tidak dapat diambil dari anggaran apapun, maka jalan satu-satunya dengan keputusan sepihak tersebut
  • Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Alhamdulillah, setelah mempelajari modul pengambilan keputusan ini, insya Allah yang benar akan saya katakan benar dan yang salah akan saya katakan salah. Untuk dilema etika, maka saya akan lebih berhati-hati dalam memutuskannya, sebab meskipun kedua kasus sepertinya sama-sama benar, tetapi jika dicermati secara mendalan akan menimbulkan dampak yang kurang baik di masa mendatang, ini juga patut dipertimbangkan masak-masak.

  • Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Sangat penting bagi keduanya baik individu ataupun pemimpin. Sebab mempelajari ilmu pengetahuan itu tidak akan rugi tidak akan membawa kesialan. Justru kebermanfaatannya akan dapat kita rasakan meski tidak serta merta, pasti perlahan dan pasti akan menikmatinya. Tidak akan ada ilmu yang sia-sia. Sebagai individu ataupun pemimpin, pembelajaran pengambilan keputusan dengan berbasis nilai kebajikan akan menentukan keputusan yang tidak keliru atau salah. meskipun terkadang keputusan kita itu penuh cibir dan kritik.








Artikel Sastra

Teks Editorial

Teks Editorial  Teks editorial adalah  teks yang  ditulis oleh redaksi media  dan merupakan  pandangan dan sikap resmi suatu media terhadap ...