Koneksi Antarmateri Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis
Nilai-Nilai Kebajikan Universal sebagai Pemimpin
Kunti Dewi Hambawani,
CGP Kab. Merangin
Fasilitator : Bp. Trireko Hernando, S.Pd. M.Pd
Pengajar Praktik : Bp. Dede Rudiana, S.Pd.
“Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
- Dari
kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda
pelajari saat ini?
Menurut saya mengenai padangan Bob Talbert di
atas, adalah membelajarkan anak tentang ilmu pengetahuan adalah baik, benar
menjadikan anak menjadi lebih mampu, lebih pintar dalam hal ilmu (pengetahuan).
Namun sesungguhnya, mengajarkan murid kita tentang apa yang jauh lebih berharga
lebih utama adalah yang terbaik, yaitu bagaimana laku mereka ketika menyelesaikan
masalah baik dalam mengambil keputusan terbaik dari situasi yang dihadapi saat
itu. Memutuskan sesuatu tidaklah mudh sebab keputusan itu adalah sesuatu yang
berharga, maka dalam memutuskannya pun tidak boleh gegabah. Butuh pertimbangan
apakah terpusat pada murid, dapat dipertanggung jawabkan, dan berlandaskan
nilai kebajikan universal.
- Bagaimana
nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan
keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita
anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan
kita apabila dalam kenyataannya kita dapat
mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid, terimplementasikannya nilai atau prinsip dalam pengambilan
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada sesama, kepada lingkungan,
dan kepada Allah Ta’ala. Hal tersebut dapat terlihat dari tercerminnya budaya
positif dalam pengambilan keputusan misalnya, pemilu raya OSIS. Rembuk
Pagelaran seni, Rapat Pelaksanan Kegiatan sekolah (Haornas, Hari pahlawan, 17
Agustus-an, dan lain-lain). Yang pasti dapat dilihat adalah adanya perubahan
positif yang terjadi dilingkungan sekolah.
- Bagaimana
Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses
pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?
Pengambilan keputusan itu akan terimplementasi
ketika saya dalam proses pembelajaran mampu memenuhi kebutuhan murid (kesiapan
belajar, minat, dan profil belajar murid) secara tepat (pembelajaran
berdeferensiasi). Memutuskan apakah akan dilaksanakan pembelajaran atau mundur
waktunya itu penting. Saya harus memastikan murid saya siap, jika belum siap
maka saya harus mengambil keputusan bagaimana agar murid saya siap belajar.
Murid kita beragam, artinya mereka pasti memiliki minat dan profil belajar berbeda,
maka pembelajaran tidak boleh saya memutuskan satu strategi. Pertimbangan dalam
memutuskan pendekatan pembelajaran agar pelayanan tetap fokus berpusat pada
murid saya juga harus diperhatikan.
- Menurut
Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses
pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the art of
making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Menurut saya maksud kutipan tersebut
adalah proses menuntun murid merupakan sebuah karya mencipta, menebalkan laku
murid agar mampu menguasai diri dalam
bertindak sesuai kewajiban moral dan nilai-nilai kebajikan universal. Bagaimana
melakukannya? Adalah dengan pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang
berdasarkan nilai kebajikan universal sehingga dapat dipertanggung jawabkan.
Koneksi Antarmateri Modul 3.1
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
- Bagaimana filosofi Ki
Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan
penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
a. Ing Ngarso Sung Tulodho, makna
tersirat dari pratap ini adalah menjadi teladan, memimpin, contoh kebajikan,
patut ditiru atau baik untuk dicontoh oleh orang lain perbuatan-kelakuan-sifat
dan lain-lainnya.
Artinya sebagai pemimpin pembelajaran, pendidik mampu memberikan contoh
keteladan dalam memutuskan bagaimana segala sesuatu itu harus diambil secara
bijak sesuai nilai kebajikan universal.
b. Ing Madyo Mangun Karso, memberdayakan,
menyemangati, membuat orang lain memiliki kekuatan, kemampuan, tenaga, akal,
cara, dan sebagainya demi memperbaiki kualitas diri murid kita. Artinya menggugah
semangat untuk mampu mengambil keputusan yang tepat, dapat
dipertanggungjawabkan dan berlandaskan nilai kebajikan universal, meski dalam
keadaan banyak aktivitas.
c. Tut Wuri Handayani, penuntun
yang baik harus mempengaruhi,
memelihara, dan memprovokasi kebajikan serta kualitas positif lain agar orang
lain bertumbuh dan maju. Dengan
dorongan semangat yang kuat maka insya Allah sebuah keputusan akan membawa manfaat besar
bagi murid.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita,
berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?
Nilai
merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan dan tolok
ukur pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya
sangat spesifik. Kehadiran nilai-nilai positif dalam diri seseorang akan
membantu mereka mengambil posisi ketika berhadapan dengan situasi atau
masalah, sebagai bahan evaluasi ketika membuat keputusan dalam kehidupan
sehari-hari. Maka dengan prinsip pengambilan berdasarkan nilai tersebut,
pemimpin pembelajaran dituntut untuk mengambil keputusan yaitu
“perubahan”. Memutuskan dalam mengapresiasi dan memanfaatkan asset dan
sumber daya yang dimiliki. Memutuskan untuk menciptakan suasana belajar
yang positif dan berkualitas bagi murid. Simpulannya karsa merupakan suatu
kekuatan yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia. Karsa ini pun
berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh
seseorang, yang kesemuanya akan berpegang pada nilai kebajikan universal
- Bagaimana materi pengambilan
keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang
diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita
ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah
ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan
tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya.
Sebagai coach bagi kita peran
fasilitator dalam proses pembelajaran sangat berdampak besar bagi saya
khususnya, umumnya bagi CGP lainnya. Dampak itu terlihat ketika kita (CGP)
ketika bagaimana harus mengambil pembelajaran, memunculkan
pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk mengakses keterampilan
metakognitifnya ketika melihat dan mengevaluasi proses berpikir kita
sendiri terkait belajar, pencapaian tujuan, dan pemecahan masalah.
Disinilah keterampilan pengambilan yang telah dibelajarkan oleh
fasilitator akan kelihatan. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul untuk
menggali ide-ide yang sangat luar biasa, sehingga dalam pengambilan
keputusan tidak akan gamang atau ragu, namun yakin dapat dipertanggung
jawabkan, berpusat pada murid, dan sesuai nilai kebajikan universal.
Tentunya semua dilakukan dengan pendekatan TIRTA berpedoman pada paradigm
dan prinsip coaching akan mampu menggali segala potensi.
- Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya
akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah
dilema etika?
kemampuan
sosial emosional sangat terkait erat dalam pengambilan keputusan.
Kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas
kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa
aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam
tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being)
diri sendiri, masyarakat, dan kelompok. Untuk pengambilan keputusan
khususnya masalah dilema etika maka butuh kesadaran penuh (mindfulness) menjadi
dasar bagi membuat rancangan yang akan membawa kebaikan,
pertimbangan-pertimbangan berdasarkan nilai moral dan etika, memikirkan
konsekuensi, memiliki rasa bertanggung jawab atas setiap keputusan yang
dibuat apapun hasilnya.
- Bagaimana pembahasan studi kasus
yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang
dianut seorang pendidik?
Kasus yang berfokus pada
masalah moral dan etika akan bermuara kembali ke nilai-nilai yang dianut
seorang pendidik. Dilemma etika, benar lawan benar ataupun bujukan moral,
benar lawan salah. Seorang pendidik harus memegang teguh prinsip dan nilai
yang sudah menjadi pedomannya. Apapun nilai yang didigunakan sebagai
landasan pada dasarnya akan memiliki konsesuensi yang mengikutinya. Namun,
semuanya tetap kembali bahwa pengambilan keputusan harus didasarkan pada
rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan, dan berpihak pada murid
- Bagaimana pengambilan keputusan
yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif,
kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Ini sangat benar. Sebuah keputusan yang tepat akan
menciptakan lingkungan positif yang tercermin dari penerapan disiplin
menjadi budaya positif. Suasana kondusif saling mendukung antar seluruh
elemen sekolah. Murid akan merasa aman nyaman sehingga proses menuntun
dapat terlaksana menuju tujuan yang diinginkan yaitu murid selamat bahagia
setinggi-tingginya. Lingkungan yang aman dan nyaman akan memberikan murid
kesempatan dan kebebasan untuk berproses, belajar, membuat kesalahan,
belajar lagi, sehingga mampu menerima dan menyerap suatu pembelajaran ini
pun tercermin dalam pengambilan keputusan dalam kesepakatan keyakinan
kelas.
- Apakah tantangan-tantangan di
lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini?
Ada. Terkadang kita dihadapkan
rasa tidak enak hati, atau “welas asih” alias tidak tega, tidak adil. Benar
lawan salah, dan sebagainya. Maka kembalikan ke titik awal, sudahkah
berpihak pada murid? Setelah itu bagaimana dampaknya ketika diuji dengan
paradigm jangka pendek lawan jangka panjang, apakah akan memberikan berkah
atau sebaliknya? Ini juga patut dipertimbangkan. Tantangan berikutnya yang
tampak adalah pendidik dan murid itu beragam suku adat dan budaya.
Menyatukannya untuk menjadi homogen sangat tidak bisa, maka menjaga
keheterongenan ini yang terkadang menjadi dilema. Di depan kita baik, di
belakang kita terkadang menghujam. Namun, yakinlah bahwa yang baik dan
benar tidak akan kalah dengan yang tidak baik dan tidak benar. Tantangan
berikutnya adalah jika terkendala dengan kegagalan dalam menjalankan
keyakinan yang telah disepakati, artiya motivasi diri belum terpatri kuat,
masih goyah. Memang ini membutuhkan suatu pembudayaan, perlahan, dan penuh
kesabaran. Tantangan berikutnya faktor eksternal, di mana kebijakan yang ditetapkan
sekolah terkadang masih dicari sisi lemahnya oleh segelintir oknum yang
mengaku LSM dengan dalih penyalur aspirasi orang tua.
- Adakah kaitannya
dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Ada. Dimanapun tempatnya dilema etika akan selalu menaungi. Tergantung
kita dapat menyikapinya secara bijak sesuai nilai kebajikan atau tidak.
Sebagai contoh, ketika berposisi menjadi individu dari sebuah warga dimana
dihadapkan pada dilemma harus mengikuti kegiatan lingkungan sementara
di sisi lain kewajiban tugas juga menunggu. Maka sinilah bentuk pengertian
warga lain untuk mengerti posisi dan peran kita sebagai pendidik. Namun,
terkadang warga lain belum memahami hal yang demikian. Mereka menyama
ratakan. Disinilah pengambilan keputusan secara bijak oleh pemangku
kepentingan diperlukan.
- Apakah pengaruh pengambilan
keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid kita?
Pengaruhnya adalah murid
diberikan kebebasan belajar sesuai 3 kebutuhan dasar mereka sebagai
individu pembelajar. Memperhatikan 3 kebutuhan dasar murid dalam proses
pembelajaran adalah memberikan kebebasan mereka dalam mengeksplor minat,
bakat, kesiapan belajar, profil belajar sehingga mereka akan belajar
secara alami dan efisien sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Penuntun
tidak cenderung mengatur dan menentukan. Biarkan murid berkembang sesuai
keinginan mereka, penuntun hanya mengarahkan dan memberi jalan, tidak
berhak menentukan harus lewat jalur apa, jalur mana.
Bagaimana
kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda? Dengan pembelajaran
berdeferensiasi. Murid kita unik, beragam, kemudian memiliki kodrat alam
dan kodrat zaman yang berbeda. Mereka bertumbuh, maka sebagai penuntun
giringlah mereka agar bertumbuh di lahan yang tepat. Maka pembelajaran
yang mampu memenuhi kebutuhan murid adalah yang tepat dan bagaimana
penuntun merespon terhadap kebutuhan tersebut. Untuk mewujudkannya
penuntun harus memperhatikan bagaimana pembelajaran itu memiliki tujuan,
merespon kebutuhan murid, menciptakan lingkungan belajar yang mengundang
murid untuk belajar, memanajemen kelas yang efektif, penilain
berkelanjutan. Pembelajaran berdeferensiasi dengan pendekatan konten
(masukan-apa yang dipelajari murid), proses (bagaimana murid memahami
ide), dan produk (hasil apa yang telah murid pelajari
- Bagaimana seorang pemimpin
pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau
masa depan murid-muridnya?
Sangat berpengaruh, artinya
ketika pemimpin pembelajaran mengambil keputusan terhadap darus dituntun
seperti apa muridnya, harus bagaimana mengerahkan jalurnya, harus menuntun
lakunya agar tidak terpeleset maka disinilah letah pengaruh itu muncul.
Proses menuntun yang keliru akan memberikan dampak besar pun sebaliknya jika
proses ngemong dan nuntun itu benar-benar berlandaskan nilai kebajikan dan
berpusat pada mereka insya Allah, masa depan muridnya akan selamat dan
bahagia baik sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat.
- Apakah kesimpulan akhir yang
dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya
dengan modul-modul sebelumnya?
Simpulan yang dapat ditarik
adalah proses pembelajaran menuntun murid tidak terlepas dari filosofi Ki
Hajar Dewantara denga Pratap Trilokanya. Pembelajaranpun harus dikaitkan
sengan nilai dan peran guru sebagai
penuntun. Memaksimalkan kompetensi social emosional dalam membelajarkan
murid dengan kesadaran penuh. Membelajarkan sesuai dengan kebutuhan mereka
yang unik dan beragam. Dengan meperhatikan kebutuhan tersebut melalui
pembelajaran deferensiasi dan proses pembelajaran dengan coaching tepat
maka insya Allah pengambilan keputusan harus menuntun seperti apa, harus
bagaimana akan dapat terlaksana secara kolaboratif dan menghasilkan
keputusan yang berpusat pada murid, dapat dipertanggung jawabkan, dan
berlandaskan Nilai-nilai kebajikan universal.
- Sejauh
mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di
modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan
keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
dilemma
etika adalah masalah-maslah yang timbul dimana kebenaran lawan kebenaran. Bujukan moral adalah masalah yang harus
diputuskan benar atau salah. 4 paradigma pengambilan keputusan meliputi
individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan kasihan, kebenaran lawan
kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. Kemudian 3 prinsip
pengambilan keputusan terdiri atas berbikir berbasis hasil akhir, berbikir
berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Sementara 9 langkah
pengambilan keputusan ini antara lain (1) Mengenali
nilai-nilai yang saling bertentangan, (2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. (3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan
situasi ini. (4) Pengujian benar atau salah (5) Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. (6) Melakukan Prinsip Resolusi (7). Investigasi Opsi Trilema (8) Buat Keputusan (9)
Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
Adakah hal di luar dugaan adalah, keputusan tidak dijalankan maksimal,
akhirnya hasilnya pun tidak maksimal (perlu diantisipasi)
Sebelum mempelajari modul ini,
pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam
situasi moral dilema? Pernah. Bilamana pernah, apa bedanya
dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Ketika menjadi ketua panitia dan harus menyetujui anggaran untuk biaya
transport “…” lalu dimintai persetujuan untuk megniyakan keputusan
sepihak. Saya tahu ini salah, tetapi saya meng”iyakan”. Sebab alasannya
tidak dapat diambil dari anggaran apapun, maka jalan satu-satunya dengan
keputusan sepihak tersebut
- Bagaimana dampak mempelajari
konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara
Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran
modul ini? Alhamdulillah, setelah
mempelajari modul pengambilan keputusan ini, insya Allah yang benar akan
saya katakan benar dan yang salah akan saya katakan salah. Untuk dilema
etika, maka saya akan lebih berhati-hati dalam memutuskannya, sebab
meskipun kedua kasus sepertinya sama-sama benar, tetapi jika dicermati
secara mendalan akan menimbulkan dampak yang kurang baik di masa
mendatang, ini juga patut dipertimbangkan masak-masak.
- Seberapa penting mempelajari topik
modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang
pemimpin? Sangat penting bagi keduanya
baik individu ataupun pemimpin. Sebab mempelajari ilmu pengetahuan itu
tidak akan rugi tidak akan membawa kesialan. Justru kebermanfaatannya akan
dapat kita rasakan meski tidak serta merta, pasti perlahan dan pasti akan
menikmatinya. Tidak akan ada ilmu yang sia-sia. Sebagai individu ataupun
pemimpin, pembelajaran pengambilan keputusan dengan berbasis nilai
kebajikan akan menentukan keputusan yang tidak keliru atau salah. meskipun
terkadang keputusan kita itu penuh cibir dan kritik.